Di Istana Negara, Rabu lalu, Prabowo Subianto membuka rapat kerja pemerintah dengan sebuah peringatan. Dunia digital, menurutnya, berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Tapi di balik itu, ada tantangan serius yang mengintai.
"Yang sekarang jadi masalah sedikit adalah teknologi," ujarnya.
Presiden lalu menjelaskan betapa mudahnya satu orang menciptakan seribu akun media sosial. Cukup dengan alat yang harganya tak terlalu mahal, akun-akun itu bisa diperbanyak lagi. Fenomena ini, dalam pandangannya, bisa menciptakan ilusi. Seolah-olah ada opini publik yang masif, padahal hanya dikendalikan oleh segelintir pihak.
"Seolah-olah jadi yang agak repot," lanjut Prabowo. "Seratus orang, dua ratus orang, seribu orang, lima ribu orang bisa bikin heboh. Ini namanya echo chamber, ada dalam pelajaran intelijen."
Dia menggambarkan pergeseran ancaman. Dulu, merusak negara lain mungkin perlu mengirim pasukan atau bom. Sekarang? Mungkin cukup dengan permainan di media sosial, fitnah, dan hoaks.
Nah, persoalan ini bukan cuma teori baginya. Prabowo sendiri mengaku kerap jadi sasaran empuk. Teknologi kecerdasan buatan atau AI sudah beberapa kali memanipulasinya.
Artikel Terkait
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya
Menteri Pertanian Soroti Rembesan Gula Rafinasi yang Rugikan Petani dan BUMN
Warga Makassar Tertipu Rp12 Juta dalam Penawaran Tukar Uang Baru di Facebook
Juru Parkir Diamankan Usai Pengeroyokan di Makassar Bermula dari Sengketa Karcis