Kisah Kelahiran Langka Rudini: Dari Anak Gajah Malang Menuju Puncak Karier Militer

- Sabtu, 04 April 2026 | 05:40 WIB
Kisah Kelahiran Langka Rudini: Dari Anak Gajah Malang Menuju Puncak Karier Militer

Siang itu di Malang, 15 Desember 1929, sebuah kelahiran yang tak biasa terjadi. Bayi ketiga pasangan Raden Ismangoen Poespohandojo dan Raden Ajoe Koesbandijah lahir tepat tengah hari, dengan tubuhnya masih terbungkus ari-ari. Kejadian langka itu langsung mengundang decak kagum. Orangtuanya punya julukan khusus: anak gajah.

“Rudini lahir dengan tubuh yang terbungkus ari-ari seperti anak gajah yang baru keluar dari rahim induknya. Itulah sebab orangtuanya menjuluki Rudini sebagai anak gajah,”

Begitu tertulis dalam buku biografi yang diterbitkan Dinas Sejarah Angkatan Darat. Julukan itu sama sekali bukan ejekan, melainkan wujud kasih sayang. Konon, Rudini sendiri begitu terkesan dengan julukan masa kecilnya itu. Buktinya, berbagai suvenir berbentuk gajah banyak menghiasi rumahnya kelak.

Dalam tradisi Jawa, bayi yang lahir dengan selubung ari-ari sering dianggap pertanda baik. Mereka dipercaya akan membawa keberuntungan, atau bakal tumbuh menjadi ‘orang besar’. Mitos atau bukan, kenyataannya anak itu Jenderal TNI (Purn) Rudini benar-benar menjelma menjadi salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah militer Indonesia.

Kariernya melesat. Dia bukan cuma pernah memegang tongkat komando tertinggi di Mabes AD, tapi juga bertahan lama di lingkaran elite Istana sebagai menteri.

Tapi kesuksesannya itu tidak datang tiba-tiba. Semuanya berawal dari tekad yang menggebu, meski awalnya penuh rintangan. Setamat dari SMA Katolik Santo Albertus Malang, Rudini justru ingin jadi dokter. Tapi hati dan pikirannya tertambat pada dunia militer. Inspirasinya datang dari dekat: kisah heroik Batalyon 3000 dan 5000 Brigade XVII/Detasemen I Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur.

Mereka adalah para pelajar yang bertempur mati-matian melawan Belanda di Malang. Tiga puluh lima anggota TRIP gugur dalam pertempuran tak seimbang itu. Justru pengorbanan itulah yang membakar semangat Rudini.

“Perjuangan anggota TRIP Malang senantiasa menjadi motivasi Rudini selepas SMA. Jiwa militansi tumbuh untuk menjadi prajurit yang gagah berani seperti TRIP,” tulis Disjarahad.

Sayang, langkah pertamanya tersendat. Ia mendaftar jadi taruna AU, namun gagal lantaran tinggi badannya tak memenuhi syarat. Gagal di AU, nasib justru membukakan jalan lain yang lebih luas.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar