Kisah Kelahiran Langka Rudini: Dari Anak Gajah Malang Menuju Puncak Karier Militer

- Sabtu, 04 April 2026 | 05:40 WIB
Kisah Kelahiran Langka Rudini: Dari Anak Gajah Malang Menuju Puncak Karier Militer

Rudini akhirnya diterima di Koninlijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda. Prestasinya di sana sudah langsung bersinar. Seorang penulis bernama Moekhardi mencatat, “Jenderal Rudini bila ditelusuri riwayat karier militernya memang sudah tampak menonjol sejak menjadi taruna. Pada ujian akhir tahun 1955, ia tercatat sebagai rangking 1 di kelompok infanteri angkatannya.”

Setelah pulang ke tanah air, karier militernya berkembang pesat. Dari Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, lalu naik ke posisi Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, hingga akhirnya memegang jabatan Kepala Staf Komando Tempur Lintas Udara. Jejaknya terus menanjak: Kaskostrad, Pangdam XIII/Merdeka, lalu Pangkostrad.

Puncaknya terjadi pada 1983. Rudini dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat yang ke-14, menggantikan Jenderal Poniman. Namun, proses pengangkatannya ternyata punya cerita tersendiri yang menarik.

Kala itu, Ibu Negara Tien Soeharto konon punya calon lain. Dalam sebuah makan malam di Cendana, dia menyampaikan harapannya pada Presiden Soeharto dan menantunya, Prabowo Subianto.

“Itu lho Pak, sing apik iku (yang bagus itu) Pangdam Bali Pak Dading. Tinggi, gagah, dan ganteng. Cocok itu, sebaiknya dia yang jadi KSAD, Pak,”

kata Ibu Tien, seperti dikisahkan kembali oleh Prabowo. Dalam pertemuan berikutnya, Ibu Tien kembali menanyakan hal yang sama. Soeharto hanya tersenyum, tanpa banyak komentar.

Beberapa hari kemudian, keputusan akhir muncul di media. Bukan Dading Kalbuadi, melainkan Rudini, sang Pangkostrad, yang terpilih. Dalam sebuah kesempatan, Ibu Tien terlihat kecewa. “Bapak (Soeharto) itu nggak mau dengar saran Ibu,” ujarnya.

Setelah pensiun dari dinas militer, Rudini tetap dipercaya negara. Soeharto menunjuknya sebagai Menteri Dalam Negeri di Kabinet Pembangunan V. Jenderal yang dijuluki ‘antipeluru’ ini juga sempat memimpin Komisi Pemilihan Umum pada 1999.

Rudini menghembuskan napas terakhirnya pada 21 Januari 2006. Sang jenderal, yang lahir dengan pembungkus ari-ari seperti anak gajah, akhirnya dimakamkan dengan penuh kehormatan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Kisah hidupnya tetap dikenang, dari bayi ajaib di Malang hingga menjadi salah satu nama besar di pentas nasional.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar