Cadangan Energi Nasional Hanya Bertahan 20 Hari, Pakar UGM Ingatkan Risiko Krisis

- Sabtu, 04 April 2026 | 08:30 WIB
Cadangan Energi Nasional Hanya Bertahan 20 Hari, Pakar UGM Ingatkan Risiko Krisis

Gejolak politik dunia yang lagi panas, ditambah ancaman kemarau panjang karena El Nino, bikin was-was soal ketahanan energi kita. Ini bukan omong kosong. Pemerintah kemungkinan besar bakal kesulitan memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, apalagi kalau sampai jalur distribusi penting seperti Selat Hormuz ikut-ikutan bermasalah.

Masalahnya makin runyam karena kita masih sangat bergantung pada impor. Sekitar seperlima kebutuhan minyak tanah kita, misalnya, masih datangkan dari Timur Tengah. Cukup mengkhawatirkan, bukan?

Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Profesor Deendarlianto, buka suara soal ini. Menurut dia, cadangan energi nasional kita cuma cukup untuk 20 sampai 22 hari saja kalau pasokan baru terhenti.

"Kalau dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial," tegas Deen, seperti dikutip akhir pekan lalu.

Logikanya sederhana: kebutuhan minyak kita sehari mencapai 1,5 juta barel. Sementara produksi dalam negeri cuma sanggup menyediakan sekitar 600 ribu barel. Ya, selisih yang cukup besar itu terpaksa ditutup dengan impor.

Di sisi lain, langkah antisipasi pemerintah patut diapresiasi. Deendarlianto mencontohkan kebijakan B50 pencampuran biodiesel ke dalam solar yang rencananya berlaku mulai Juli 2026. Itu salah satu cara jitu untuk tekan ketergantungan impor.

Tapi, bukan berarti semua rencana bisa langsung diterapkan begitu saja. Soal wacana Work From Home (WFH) misalnya, menurut dia masih perlu dikaji lebih dalam.

"Saya pikir itu ide yang baik, namun perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam lagi dan tidak untuk dijadikan generalisasi," katanya.

Selain biodiesel, Deen juga mendorong diversifikasi lewat pengembangan etanol dari sorgum atau ketela sebagai pengganti bensin. Pengembangan Dimethyl Ether (DME) untuk substitusi LPG juga dinilai penting. Menurutnya, krisis justru bisa jadi momentum bangkitkan riset energi di perguruan tinggi.

"Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi," tuturnya.

Nah, ancaman lain datang dari alam. BMKG memprediksi El Nino akan muncul di paruh kedua 2026. Dampaknya bakal luas: dari pertanian sampai pembangkit listrik tenaga air bisa terpukul. Harga BBM yang naik bisa pengaruhi banyak hal, termasuk operasional pompa air untuk lahan pertanian di musim kemarau.

Untuk itu, alternatif seperti mikroalga, biodiesel, atau tenaga surya perlu digenjot. Intinya, menurut Deen, pengembangan energi nasional butuh perencanaan matang dan konsisten. RUEN harus jadi panduan yang benar-benar dijalankan, bukan sekadar dokumen.

Yang tak kalah penting, industri energi dalam negeri baik fosil maupun terbarukan harus dikuatkan. Tujuannya jelas: kurangi impor dan putar roda ekonomi domestik lebih cepat.

"Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat," ujarnya. Tapi ia mengingatkan, "Jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor."

Jadi, jalan masih panjang. Ancaman nyata ada di depan mata, tapi kesempatan untuk berbenah juga masih terbuka lebar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar