Menurut buku "Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" karya Cindy Adams, bagi Bung Karno, bertemu rakyat secara langsung adalah sebuah kebutuhan jiwa. Ia kerap merasa lemas, napasnya seperti tercekat, jika terlalu lama terkurung di dalam istana. Maka, ia pun sering keluar seorang diri, kadang cuma ditemani satu ajudan yang juga berpakaian preman.
Lalu, bagaimana cara menyamarnya? Ternyata tidak terlalu sulit. Di mata rakyat, citra Bung Karno sangat melekat dengan seragam kebesarannya dan peci hitam. Cukup dengan melepas atribut itu, penampilannya sudah berubah drastis.
Ia akan memakai kemeja biasa, pantalon, dan sandal. Kacamata berbingkai tanduk menambah efek penyamarannya. Dengan gaya seperti itu, ia bisa leluasa masuk ke pasar atau duduk di warung tanpa seorang pun mengenalinya. Dan itulah yang membuatnya bahagia.
Bagi Bung Karno, berada di tengah riuh rendah kehidupan rakyat jelata memberinya ketenteraman. Ia menyimak obrolan, gosip, debat kusir, hingga canda tawa mereka. Pada momen-momen biasa itulah ia merasa sebuah kekuatan mengalir deras dalam dirinya. Kekuatan yang berasal dari rakyat yang dicintainya.
Tak jarang, dalam perjalanan blusukannya, ia berhenti di pinggir jalan. Memesan sate ayam yang disajikan di atas pincuk daun pisang, lalu menyantapnya sambil duduk di trotoar. Saat-saat sederhana seperti inilah, katanya, yang memberinya kesenangan luar biasa. Sebuah kesenangan yang tak bisa ditemukan di balik tembok istana mana pun.
Artikel Terkait
Bezzecchi Kukuhkan Puncak Klasemen dengan Kemenangan di MotoGP Amerika
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Cuaca Ekstrem di Awal Masuk Sekolah
Komisi III DPR Kritik Penanganan Kasus Korupsi Videografer Rp30 Juta
Kepatuhan LHKPN DPR Terendah, Hanya 55,14% yang Lapor