Pekan ini, pasar modal bakal berjalan lebih singkat. Soalnya, Jumat Agung pada 3 April 2026 membuat perdagangan libur, menyambut perayaan Paskah. Meski hari efektifnya berkurang, tapi sejumlah data ekonomi yang bakal keluar justru bikin pekan ini tetap seru untuk diikuti. Dinamika geopolitik global juga masih menggantung, berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter di berbagai negara.
Nah, sorotan utama tentu ke Amerika Serikat. Investor di sana sedang menanti-nanti laporan ketenagakerjaan yang dijadwalkan rilis pada 3 April. Uniknya, saat data itu keluar, pasar saham AS justru tutup karena libur Good Friday. Jadi, reaksinya baru akan terasa pekan depan.
Menurut estimasi median Bloomberg, lapangan kerja AS diperkirakan bertambah sekitar 60 ribu. Yang menarik, tak satu pun ekonom yang memproyeksikan angka kehilangan pekerjaan secara bersih. Ini jelas sinyal bahwa pasar tenaga kerja mereka masih terlihat tangguh, meskipun awan ketidakpastian makroekonomi mulai menggelayut.
Bersamaan dengan data itu, tingkat pengangguran AS untuk Maret juga bakal diumumkan. Sebelumnya, di bulan Februari, angkanya sudah merangkak naik ke level 4,4 persen. Jadi, ini data yang cukup krusial untuk dianalisis.
Selain ketenagakerjaan, ada juga survei ISM Manufacturing PMI. Data ini akan memberikan gambaran nyata tentang dampak kenaikan biaya energi yang tak lepas dari konflik AS-Israel versus Iran terhadap para produsen barang. Apakah mereka masih bisa bertahan atau mulai tertekan?
Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju ke China. Data Caixin China General Manufacturing PMI akan menjadi indikator terbaru kondisi perekonomian negeri Tirai Bambu itu. Jangan lupa, China adalah raksasa ekonomi nomor dua di dunia sekaligus importir energi terbesar. Gerak-geriknya selalu berpengaruh global. Rilis data manufaktur dari negara lain, termasuk Indonesia, juga bakal jadi bahan pertimbangan investor.
Lalu, bagaimana dengan dalam negeri? Badan Pusat Statistik (BPS) rencananya akan merilis sejumlah data resmi pekan ini. Mulai dari inflasi, ekspor-impor, sampai data strategis lainnya. Data-data inilah yang nantinya akan jadi acuan untuk melihat ketahanan ekonomi domestik di tengah gejolak yang ada.
Jadi, meski pekan pendek, sajian datanya justru padat dan beragam. Tinggal tunggu saja, mana yang akan jadi sentimen dominan.
Artikel Terkait
IIF Jamin Sukuk Hijau Arkora Hydro Rp645 Miliar, Perkuat Pembiayaan Energi Terbarukan
Rupiah Terus Melemah ke Rp17.744 per Dolar AS, Dipicu Ketidakpastian Geopolitik dan Sinyal Hawkish The Fed
IHSG Ditutup Hijau di Awal Pekan, Ditopang Lonjakan Saham GRIA dan LAJU
IHSG Ditutup Menguat 0,72 Persen ke 6.206,35 pada Perdagangan Perdana Pekan Ini