Tokyo, Minggu malam kemarin, suasana di lobi hotel itu riuh rendah. Bukan cuma diaspora Indonesia yang menunggu, tapi juga sekelompok wajah muda yang seragam. Mereka adalah taruna Indonesia yang sedang menuntut ilmu di National Defence Academy (NDA) Jepang. Dan mereka ada di sana untuk menyambut satu orang: Presiden Prabowo Subianto.
Begitu sang Presiden tiba, sambutan hangat langsung mengisi ruangan. Para taruna itu berdiri rapi, penuh kebanggaan terpancar di wajah mereka. Bertemu langsung dengan Kepala Negara di negeri orang jelas bukan hal yang terjadi setiap hari. Ini momen langka, sekaligus sebuah kehormatan besar.
Letnan Dua Teknik Farel Octandrian, salah satu taruna penerima beasiswa itu, tak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Kami sangat bangga dan senang sekali bisa bertemu dengan Bapak Presiden. Ini suatu hal yang langka bagi kami dan suatu kehormatan bagi kami,” ujar Farel, yang berasal dari AAU 2025.
Dia bahkan sempat mengobrol langsung dengan Prabowo. Suasananya akrab dan cair. Dalam kesempatan itu, Farel menyampaikan terima kasih sekaligus harapan.
“Untuk Bapak Presiden kami ingin berterima kasih, atas usaha Bapak kami bisa terus berlanjut untuk beasiswa NDA ini. Untuk ke depannya semoga program ini bisa terus berlanjut sampai ke adik-adik kami. Terima kasih, Bapak,” ungkapnya.
Perasaan serupa diungkapkan Letda Laut (P) Dhani Fathurrachman. Taruna yang mendalami ilmu bumi dan kelautan ini juga merasakan kebanggaan yang sama. Menurut ceritanya, Prabowo tak cuma menyapa, tapi juga berdialog. Menanyakan soal pendidikan mereka, lalu memberikan pesan.
“Tentunya Bapak Presiden berpesan kepada kami untuk tetap belajar, semangat, bawa nama baik di Indonesia,” kata Dhani.
Pesan itu rupanya menyebar semangat. Letnan Dua (Arh) Irsyad Farhan Mahendra, perwakilan dari taruna Angkatan Darat, mengaku sangat tersemangati. Meski diakui, menjalani pendidikan di Jepang punya tantangannya sendiri. Budaya, bahasa, iklim semua berbeda. Tapi justru di situlah mereka ditempa.
Dan di balik semua kerja keras itu, ada satu harapan yang mengemuka. Sebuah tekad untuk membawa pulang ilmu yang didapat.
“Harapan dari saya apapun yang saya pelajari di sini, bisa saya aplikasikan di Indonesia untuk memajukan bangsa dan negara,” tutur Irsyad penuh keyakinan.
Malam itu, di tengah keramaian Tokyo, obrolan singkat dan jabat tangan dari Presiden ternyata sudah cukup menjadi pengingat. Tentang untuk siapa mereka kelak berjuang, dan tentang arti membawa nama Indonesia di pundak.
Artikel Terkait
Terapis Spa di Surabaya Didakwa Gelapkan Rp1,2 Miliar Rekan Kerja, Uang Dibeli Emas Batangan
Imam Besar Masjidil Haram Serukan Haji Sebagai Sarana Persatuan Umat dalam Khutbah Arafah 1447 H
Prabowo Tiba di Paris untuk Kunjungan Kenegaraan, Dorong Kemitraan Komprehensif dengan Prancis
Danantara Rilis Laporan Keuangan Konsolidasi BUMN pada Akhir Kuartal III 2026