Jakarta – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) punya usulan menarik. Mereka mendorong permainan tradisional sebagai cara untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari layar gawai dan media sosial yang kian menggila.
Gagasan ini dilontarkan langsung oleh Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi. Ia menyampaikannya dalam sebuah rapat koordinasi di Gedung Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta, Rabu (11/3/2026). Rapat itu sendiri membahas aturan baru tentang tata kelola sistem elektronik untuk perlindungan anak.
Menurut Arifatul, ada nilai edukatif yang kaya dalam permainan tradisional. Bukan cuma untuk mengisi waktu, tapi juga membentuk karakter. Di tengah aturan pembatasan penggunaan gadget, permainan seperti ini bisa jadi alternatif yang segar.
“Permainan tradisional punya filosofi yang kuat untuk membangun karakter anak. Di dalamnya ada kebersamaan, ada sportivitas, dan anak belajar menghargai aturan. Hal-hal semacam itu penting banget untuk perkembangannya,” ujar Arifatul.
Ia melihat, penggunaan gawai yang tak terkendali memang jadi masalah. Tanpa pengawasan, anak rentan terpapar konten negatif atau bahkan mengalami kekerasan di ruang digital. Situasinya cukup mengkhawatirkan.
Nah, untuk menjawab ini, KemenPPPA punya program bernama Ruang Bersama Indonesia yang berbasis desa. Intinya, mereka ingin memperkuat peran keluarga dan komunitas sekitar dalam mendampingi anak. Program ini juga diharapkan bisa menghidupkan lagi aktivitas lokal yang sarat kearifan.
“Lewat ruang bersama di desa, kami ingin ciptakan lingkungan yang aman dan ramah untuk anak. Sekaligus mendorong mereka agar aktif bermain dan berinteraksi secara langsung, bukan lewat layar,” kata Arifatul menjelaskan.
Ia menambahkan satu poin penting. Ternyata, permainan tradisional juga bisa jadi media menanamkan nilai-nilai Pancasila. Bagaimana caranya? Ya, lewat ajaran kerja sama, toleransi, dan saling menghargai yang terjadi secara alami saat anak-anak bermain.
“Dalam permainan tradisional, anak-anak belajar bekerja sama. Latar belakang mereka berbeda-beda, tapi itu tidak jadi masalah. Mereka bermain bersama, berinteraksi, dan membangun persahabatan. Nilai-nilai seperti inilah yang akan memperkuat karakter mereka sejak dini,” jelasnya.
Harapannya jelas. Pendekatan yang mengangkat budaya lokal ini bisa efektif mengurangi kecanduan anak pada gawai. Di sisi lain, interaksi sosial di tengah masyarakat juga ikut menguat. Sebuah langkah sederhana, tapi mungkin dampaknya akan terasa jauh.
Artikel Terkait
Gibran Sebut Jusuf Kalla Idola, Pengamat: Sikap Dewasanya Redam Ketegangan Politik
Arsenal Kembali ke Puncak Klasemen Usai Taklukkan Newcastle 1-0
Aktor China Deng Kai Dikejar Ratusan Fans Hingga ke Toilet Bandara Usai Terkenal Lewat Drama Pursuit of Jade
Wamen PKP Fahri Hamzah Tinjau Lahan Kampung Nelayan di Aceh Jaya, Targetkan Realisasi Cepat