Di sisi lain, Komnas HAM tak hanya berfokus pada pendampingan. Mereka juga mendalami data medis korban secara serius. Komisioner lainnya, Pramono Ubaid Tanthowi, menyatakan pihaknya telah menghimpun keterangan lengkap dari tim dokter RSCM.
Data itu mencakup semua hal, mulai dari kondisi awal Andrie saat pertama kali dibawa ke rumah sakit, hingga rencana penanganan medis ke depannya. “Kami ingin mengetahui langkah-langkah yang sudah diambil sejak awal hingga saat ini,” jelas Pramono.
Informasi medis yang terkumpul ini nantinya bukan sekadar arsip. Ia akan menjadi pijakan utama bagi Komnas HAM dalam menyusun rekomendasi resmi mereka terkait kasus ini.
Menyentuh Ranah Intelijen
Lalu, bagaimana dengan penyelidikan? Komnas HAM mengaku tak hanya mengandalkan data dari rumah sakit. Mereka juga aktif menggali informasi dari berbagai pihak, salah satunya KontraS.
Yang pasti, koordinasi dengan institusi TNI akan dilakukan. Hal ini wajar mengingat empat terduga pelaku dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus pada 12 Maret 2026 di Senen, Jakarta Pusat itu, disebut-sebut berasal dari Badan Intelijen Strategis (Bais).
Akibat serangan itu, kondisi Andrie cukup parah. Ia mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuh yang vital, seperti mata, wajah, dada, dan tangan. Hingga kini, ia masih terbaring dan menjalani perawatan intensif di ruang isolasi RSCM.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Setuju Efisiensi Program Makan Bergizi, Kualitas Dijamin Tak Turun
Menteri Keuangan Soroti Vendor Lelet dan Kerumitan Bermuatan Bisnis di Sistem Coretax
Kuasa Hukum Laporkan Pimpinan KPK ke Dewas Soal Tahanan Rumah Yaqut
Mentan: Stok Beras Nasional Aman untuk 324 Hari ke Depan