Di sisi lain, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Barru, Ahmad Jamaluddin, merasa perlu meluruskan narasi yang beredar. Ia membantah keras isu bahwa Barru adalah daerah intoleran.
Pernyataan senada datang dari seberang meja. Ketua Pengurus Masjid Nurut Tajdid, Suaib Arifin, juga mengajak semua pihak untuk tidak memperbesar masalah. “Mari kita jaga keharmonisan,” ajaknya singkat.
Mediasi ini dihadiri banyak pihak penting. Mulai dari jajaran Pemkab, Kemenag, hingga perwakilan TNI-Polri dan FKUB. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tapi untuk memastikan situasi tetap kondusif dan proses hukum berjalan lancar.
Konflik ini sendiri berawal dari sebuah video viral. Dalam rekaman itu, terlihat penolakan terhadap jamaah Muhammadiyah yang hendak Salat Id di masjid tersebut pada Jumat, 20 Maret. Kabarnya, ada perbedaan waktu pelaksanaan Idulfitri dan klaim kepemilikan masjid yang saling silang. Dua hal itulah yang memicu gesekan, yang kemudian dengan cepat digiring menjadi isu intoleransi.
Menyikapi hal itu, aparat keamanan pun tak tinggal diam. Sebelum mediasi digelar, polisi bersama TNI dan pemerintah setempat sudah turun ke lokasi. Mereka berjaga, memastikan situasi tidak meluas dan tetap bisa dikendalikan.
Artikel Terkait
Puncak Arus Balik Lebaran, Penumpang Bandara Tembus 583 Ribu Orang
BMKG Peringatkan Hujan Lebat Berpotensi Banjir dan Longsor di Sulsel Tiga Hari ke Depan
Kepala BAIS Letjen Yudi Abrimantyo Mundur, TNI Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum
Pemerintah Siapkan WFH Satu Hari Seminggu untuk ASN, Tunggu Pengumuman Resmi Usai Lebaran