Mimpi atau musibah? Itulah pertanyaan yang menggantung di udara dingin Bergamo malam ini. Italia akan berjibaku melawan Irlandia Utara di semifinal playoff zona Eropa. Tujuannya satu: menjaga harapan kecil untuk terbang ke Piala Dunia 2026. Bagi yang kalah di Stadion Bergamo nanti, perjalanan sudah berakhir. Titik.
Tekanannya luar biasa bagi Azzurri. Bayangkan, mereka berisiko menjadi mantan juara dunia pertama yang gagal melangkah ke tiga Piala Dunia berturut-turut. Catatan itu sungguh memalukan. Di sisi lain, lawan mereka malam ini, Irlandia Utara, justru punya kenangan manis walau sudah sangat lama. Terakhir kali mereka menundukkan Italia? Itu terjadi pada 1958, era yang hampir terlupakan.
Pertemuan terakhir kedua tim justru meninggalkan luka bagi Italia. Lima tahun silam, imbang 0-0 di Windsor Park menggagalkan langkah otomatis mereka ke Qatar 2022. Hasil itu seperti gerbang awal menuju bencana, yang puncaknya adalah kekalahan memalukan dari Makedonia Utara di babak playoff. Trauma itu masih membekas.
Namun begitu, sejarah kandang melawan Irlandia Utara sebenarnya cukup bersahabat untuk Italia. Tujuh kemenangan beruntun dengan agregat gol 16-2, dan clean sheet di enam pertandingan. Fakta terakhir kali gawang Italia jebol oleh tim ini pun terjadi pada 1961, dalam laga persahabatan. Statistik itu mestinya jadi penenang.
Tapi sepak bola tak pernah hanya soal statistik. Gennaro Gattuso, sang pelatih, tahu betul. Ia dipaksa membawa timnya kembali ke jalan berliku playoff setelah kalah bersaing ketat dengan Norwegia di fase grup. Suasana di kamp Italia jelas tegang.
“Rasa gugup itu tak bisa disangkal. Cuma orang yang nggak punya darah mengalir di nadinya yang nggak bakal merasakan ini,” ujar Gattuso, menyiratkan beban yang dipikul.
Trauma kegagalan lalu membuatnya galak. Ia menuntut performa terbaik dari anak asuhnya. Hanya dengan itu mereka bisa melangkah ke final Path A, melawan pemenang antara Wales atau Bosnia & Herzegovina.
“Kita harus kerja bagus, sebarkan energi positif. Nggak ada alasan. Buat apa mikirin ‘seandainya kita lebih baik’. Satu-satunya hal yang wajib kita pikirkan cuma pertandingan besok,” tegasnya lagi.
Gattuso bahkan menyuruh timnya melupakan semua gelar gemilang masa lalu. Empat Piala Dunia, dua Euro, satu Olimpiade itu semua tak relevan. “Buat kita, satu-satunya pertandingan adalah besok,” katanya. Motivasi tambahan? Menurutnya, tak diperlukan. “Semua pemain di sini tahu betul untuk apa kita bertarung.”
Tapi, jangan kira Irlandia Utara datang hanya untuk jadi bulan-bulanan. Mereka punya mimpi sendiri: mengakhiri puasa 40 tahun tanpa penampilan di putaran final Piala Dunia. Mereka nyaris mencipta keajaiban pada 2018, sebelum akhirnya tumbang dari Swiss di playoff. Kini, mereka berharap nasib baik tersenyum di tanah Italia, sebelum nanti berhadapan dengan Wales atau Bosnia.
Pelatih mereka, Michael O’Neill, melihat ini sebagai peluang, bukan ancaman.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026
Enam Tiket Terakhir Piala Dunia 2026 Diperebutkan di Playoff Semifinal