Namun begitu memasuki delapan lap terakhir, strateginya terbukti. Sementara ban para rival mulai aus, ban Veda masih dalam kondisi prima. Dia pun seperti mendapat sayap, menyalip semua orang di depannya dengan relatif mudah dan akhirnya menang.
“Dia sangat cerdas membaca race. Tidak terburu-buru, tahu kapan waktunya menyerang,” begitu kira-kira pujian yang sering didengar untuknya usai balapan di Mugello.
Pelajaran dari Mugello Dibawa ke Brazil
Nah, rupanya strategi serupa coba dia terapkan di Brazil. Di balapan penuh yang direncanakan 24 lap, dia sengaja mengelola ritme. Melorot? Iya. Tapi dia tetap menjaga jarak agar tidak terlepas dari rombongan besar di depan.
Targetnya jelas: punya ban yang masih ‘hidup’ untuk serangan balik di 10 lap terakhir. Sayangnya, rencana itu buyar karena bendera merah berkibar di lap 14.
Tapi, Veda nampaknya tidak kehilangan akal. Restart yang hanya lima lap justru menjadi peluang emas. Para pesaing di depannya sudah menggunakan ban mereka lebih keras di 14 lap awal. Sementara Veda, yang lebih berhemat, punya keunggulan ban yang masih bagus.
Dengan aset itu, dia mengulangi manuver ala Mugello: menyalip dengan presisi. Sayang, waktu memang terlalu singkat. Lima lap tidak cukup untuk mengejar dua pembalap terdepan, Maximo Quiles dan Marco Morelli.
Meski begitu, podium ketiga di bawah bendera merah putih tetaplah sebuah prestasi yang gemilang. Veda Ega Pratama sekali lagi membuktikan, di balik kecepatan, yang tak kalah penting adalah kepintaran membaca situasi. Balap motor memang tak cuma soal gas pol.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal
Kim Jong Un Kembali Pimpin Korea Utara, Kim Yo Jong Tak Masuk Komisi Urusan Negara
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu