Selain dua ruas jalan tadi, perhatian juga tertuju ke Jalan Tun Abdul Razak. Nah, di sini prioritasnya agak berbeda. Pemerintah memilih membenahi sistem drainase terlebih dahulu sebelum berpikir untuk pengaspalan. Jalan ini merupakan perpanjangan dari Hertasning yang mengarah ke Samata.
Masalah utamanya klasik: banyak saluran air yang tidak terhubung dengan baik. Kalau drainasenya berantakan, percuma saja aspal baru ditabur.
"Di Tun Abdul Razak itu, yang utama kita lakukan adalah perbaikan drainase dulu sebelum masuk ke program mayornya, aspalnya. Karena di sana siklus drainasenya banyak yang tidak terkoneksi. Hal itulah yang perlu kita benahi secara umum," tegas Ihsan.
Hujan, Tantangan yang Tak Terelakkan
Selain urusan teknis di lapangan, ada faktor lain yang kerap jadi penghambat: cuaca. Curah hujan yang tinggi belakangan ini menjadi perhatian serius. Terburu-buru mengaspal di tengah hujan atau kondisi basah justru bisa mengorbankan kualitasnya.
"Faktor cuaca juga. Makanya pada saat banyak disoroti, kita kan tidak bisa optimal pengaspalannya. Aspal itu sangat sensitif dengan air. Bisa saja kami paksakan, tapi takutnya kualitasnya jadi terganggu," ungkapnya.
Pemprov Sulsel berharap, seluruh rangkaian proyek peningkatan jalan di koridor Hertasning-Aroepala ini bisa segera tuntas. Dengan ruas jalan yang lebih baik, kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan di kawasan tersibuk Mamminasata ini pun diharapkan bisa meningkat signifikan.
Artikel Terkait
Pemerintah Kaji Pemotongan Gaji Pejabat hingga Anggota DPR
Pemerintah Imbau Open House Lebaran Dilaksanakan Secara Sederhana
Remaja Tewas, Dua Luka Berat dalam Tabrakan Motor di Pandeglang
Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Soal Desain Matang Jika WFH Dilanjutkan