“Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan mempererat hubungan kita dengan Allah SWT serta membangun kedamaian di antara sesama,” ujarnya suatu kali pada jamaah.
Pria asal Sulawesi Selatan ini bukan pendatang baru di dunia dakwah Amerika. Sudah hampir sepuluh tahun ia berkarya di sini. Latar belakang pendidikannya kuat: dari Universitas Muslim Indonesia Makassar hingga LIPIA Jakarta. Sebelum memimpin Masjid Istiqlal Houston, ia pernah aktif berdakwah di Pesantren Nur Inka Nusantara Madani di Connecticut, juga di berbagai komunitas masjid di Las Vegas dan New York. Pengalaman panjang itulah yang membentuk visinya: masjid harus jadi pusat pembelajaran, dialog budaya, dan penguatan solidaritas.
Karena itu, berbagai program terus dikembangkan agar masjid benar-benar terasa seperti rumah kedua. Dan di bulan Ramadan ini, semangat kebersamaan yang tumbuh subur di Houston membuktikan satu hal: ukhuwah Islamiyah bisa tetap kuat, meski kita terpisah ribuan kilometer dari kampung halaman.
Kegiatan buka bersama, tarawih, dan kajian tiap malam itu seperti lem yang merekatkan hubungan antarjamaah. Melalui semua aktivitas itu, Masjid Istiqlal Houston mengajak umat Muslim di Amerika untuk menjalani Ramadan dengan kesadaran spiritual yang penuh, disertai kedamaian dan semangat berbagi yang tulus.
Dengan atmosfer yang hangat dan penuh makna, masjid ini tetap menjadi rumah spiritual andalan bagi diaspora Muslim Indonesia di Houston. Di antara gema azan, lantunan doa, dan canda tawa saat berbuka, komunitas Muslim di sini menemukan sesuatu yang berharga: bahwa Ramadan mampu menghadirkan rasa keluarga, bahkan di perantauan yang jauh sekali.
Penulis: Ismawan Amir
Koordinator Global Diaspora Indonesia
Artikel Terkait
Anggota DPR Apresiasi Transparansi Pemerintah Soal Stok BBM untuk Tiga Pekan
Harga Emas Antam Naik Rp35.000, Sentuh Rp3,059 Juta per Gram
Polda Maluku Musnahkan Ribuan Liter Sopi Hasil Operasi Gabungan
Jusuf Kalla Desak Indonesia Berpihak pada Negara Islam dalam Konflik Global