Menurut Krisna, kondisi seperti ini harus diuji dengan serius. Bisa jadi ini bukan cuma kelalaian, tapi pembiaran. "Jika ayah Nizam sudah mengetahui adanya kekerasan, sudah ada laporan resmi, sudah memahami risiko yang nyata tapi memilih berdamai dan tetap membiarkan anak dalam kondisi berbahaya maka kondisi itu harus diuji serius sebagai kemungkinan kesengajaan bersyarat," paparnya panjang lebar.
Intinya, penyidikan harus lebih luas. Jangan cuma fokus pada siapa yang langsung memukul. Tapi juga perlu ditelusuri, adakah pihak lain yang turut bertanggung jawab karena diam saja saat tahu ada bahaya.
Keluarga korban punya harapan besar pada DPR RI. Mereka minta agar dewan benar-benar mengawal kasus ini sampai tuntas. Pengawasan dari legislatif dinilai penting untuk memastikan proses hukum berjalan profesional dan transparan. Yang jelas, kasus ini tak boleh berhenti di satu orang saja.
"Perkara ini tidak boleh berhenti pada pelaku fisik semata," tegas Krisna lagi. Suaranya berisi keprihatinan yang mendalam. "Hukum harus berani melihat struktur tanggung jawab, dan jika pembiaran terjadi setelah adanya laporan tidak diproses maka yang dilemahkan bukan hanya satu perkara, melainkan kepercayaan publik terhadap perlindungan anak di negeri ini."
Pernyataan itu seperti tamparan. Mengingatkan kita semua bahwa di balik satu kematian seorang anak, ada sistem perlindungan yang diuji keampuhannya. Dan rasa keadilan publik yang sedang menanti jawaban.
Artikel Terkait
Fajar/Fikri Tersingkir di 16 Besar All England Usai Duel Sengit Tiga Gim
Syahganda Nainggolan: Hanya Soekarno dan Prabowo yang Punya Ideologi Kuat
Warga Makassar Gelar Aksi Lilin untuk Korban Penembakan Diduga Oknum Polisi
Alwi Farhan Lolos ke Perempat Final All England Usai Singkirkan Unggulan Ketujuh