Ia pun mengingatkan pelajaran dari sosok B. J. Habibie. Alasan beliau bersedia kembali kala itu karena negara menyiapkan panggung strategis bagi pengembangan industri nasional. Nah, keberpihakan kebijakan seperti itulah yang sekarang dinilainya kurang.
Di sisi lain, Fikri mendorong perubahan cara pandang. Daripada terus khawatir dengan brain drain atau pengurasan otak, lebih baik beralih ke konsep brain circulation atau sirkulasi otak. Dalam pendekatan ini, diaspora yang tetap di luar negeri tetap dianggap berkontribusi selama mereka bisa menjadi jembatan teknologi, menarik investasi riset, dan membangun kerja sama institusi untuk Indonesia.
Namun begitu, semua itu perlu didukung langkah nyata. Pemerintah diminta memperkuat koordinasi antar kementerian agar lulusan terbaik nggak terhambat birokrasi yang berbelit ketika ingin mengabdi. Tanpa reformasi tata kelola dan penyederhanaan regulasi, potensi besar SDM Indonesia dikhawatirkan akan terus berkembang di luar negeri.
Alih-alih memberi dampak maksimal di dalam negeri, mereka justru bersinar di tempat lain.
"Jangan biarkan mutiara-mutiara kita hanya bersinar di negeri orang karena kita gagal menyiapkan tempat bagi mereka di rumah sendiri," pungkas Fikri.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Dua Motor di Bone, Diduga Bagian Sindikat
Polisi Tangkap Kakak Tiri Pelaku Pembunuhan Bocah SD di Bandung Barat
BMKG Prakirakan Hujan Ringan Guyur Makassar dan Sebagian Besar Sulsel Seharian
KPK Tangkap Bupati Pekalongan, Dalih Bukan Birokrat Dinilai Tak Masuk Akal