Artinya, "Atas nama Nami Haider (damai bersamanya)." Tidak ada konteks. Tidak ada klarifikasi. Hanya frasa itu saja.
Bagi yang tak paham, "Haider" adalah julukan untuk Imam Ali bin Abi Thalib dalam tradisi Syiah. Penggunaan frasa "damai bersamanya" jelas merupakan simbol keagamaan yang dalam. Tapi maksudnya apa? Isyarat syahid? Perlawanan simbolik? Atau cuma unggahan terjadwal yang kebetulan muncul di saat yang salah? Sampai sekarang, tidak ada yang tahu pasti.
Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989 dengan otoritas mutlak, tetap membisu. Akunnya berbicara, tapi sang pemiliknya tidak.
Sementara dari Sana, Trump Bersuara Lantang
Berbeda sekali dengan keheningan dari Tehran, dari Washington justru datang pernyataan yang sangat konfrontatif. Donald Trump tak ragu-ragu.
Dalam postingannya di Truth Social, ia menyebut kematian Khamenei sebagai sebuah "keadilan" dan momentum bagi rakyat Iran. Bahkan, ia menggunakan bahasa yang cukup kasar.
Trump merasa yakin. Ia mengklaim intelijen AS dan Israel punya kemampuan pelacakan presisi tinggi, sehingga Khamenei tak punya celah untuk lolos.
Dan serangan, katanya, belum akan berhenti.
Ia juga berharap pasukan Garda Revolusi dan kepolisian Iran mau bergabung secara damai dengan apa yang disebutnya "kelompok patriot". Harapan yang, dalam situasi seperti ini, terdengar seperti ultimatum.
Jadi beginilah situasinya. Dari satu sisi, ada unggahan simbolik yang penuh tanya. Dari sisi lain, pernyataan perang yang blak-blakan. Di tengahnya, ada sebuah negara dan nasib seorang pemimpin yang seolah hilang di antara dua narasi yang saling bertolak belakang.
Artikel Terkait
DBMBK Sulsel Sebut Curah Hujan Tinggi Penyebab Kerusakan Dini Jalan Hertasning Makassar
Kapolri Lantik Brigjen Totok Suharyanto Pimpin Kakortas Tipidkor
Musisi AS Tuduh Serangan ke Iran sebagai Pengalihan dari Skandal Epstein
BMKG Makassar Peringatkan Potensi Hujan Ringan dan Angin Kencang di Sulsel