✍🏻 Balqis Humaira
Gue baca kalimat itu sekali. “Terima kasih concern anda, kami mampu. Indonesia mampu mengatasi bencana ini.” Langsung berhenti.
Reaksi pertama? Oke, ini kalimat pemimpin. Tegas. Nggak merengek, nggak kelihatan kecil. Tapi… ada suara lain di kepala yang nggak mau diam.
Dia nyeletuk pelan, “Lo yakin yang ‘mampu’ itu negara? Atau rakyatnya yang lagi dipaksa mampu?” Nah, di titik ini semuanya jadi ribut.
Gue langsung kebayang wajah-wajah yang nggak pernah muncul di panggung pidato. Orang yang rumahnya kebanjiran berkali-kali. Ibu-ibu di dapur umum, masak dari sumbangan tetangga. Relawan yang masuk hutan jalan kaki karena akses pemerintah nggak nyampe. Mereka inilah yang selalu “mampu”. Bahkan seringkali, terlalu mampu. Sampai-sampai negara jadi kebiasaan numpang pada ketangguhan mereka.
Otak optimis gue masih berusaha nahan. “Ya tapi negara kan nggak bisa disalahin semua. Namanya juga bencana alam.” Iya sih.
Tapi kepala gue yang satunya langsung nyamber. “Kalau bencananya alam, iya. Tapi kalau dampaknya makin parah karena kebijakan, itu udah beda cerita.”
Dan ini yang bikin sesek. Kita sering banget salah kaprah. Banjir? “Cuaca ekstrem.” Longsor? “Curah hujan tinggi.” Padahal di belakangnya tuh, ada izin tambang dan sawit yang nggak terkontrol, alih fungsi lahan serampangan, plus tata ruang yang ugal-ugalan. Pengawasan? Setengah hati.
Jadi pas dengar “Indonesia mampu”, yang kepikiran malah pertanyaan ini: mampu kenapa pencegahannya selalu ketinggalan dari kerusakannya? Bukan pertanyaan jahat, kok. Cuma logis aja.
Kalau memang mampu, kenapa titik bencananya itu-itu lagi? Kenapa korbannya selalu kelompok yang sama? Dan kenapa setiap kejadian besar, responnya selalu terlihat kaget?
“Lo terlalu keras,” batin gue yang satu lagi masih ngotot. “Baru juga ngomong. Belum tentu nggak ada tindak lanjut.” Bisa jadi, sih.
Sayangnya, pengalaman ngajarin gue hal yang pahit: di sini, pidato sering lebih cepat sampai daripada pembenahan. Itu yang bikin kalimat tadi terasa riskan. Begitu seorang pemimpin bilang ke dunia, “Kami mampu,” maka setiap kegagalan setelahnya bukan lagi soal keterbatasan sumber daya. Itu jadi soal janji yang nggak ditepati.
Debat di kepala makin dalam.
“Ini soal harga diri bangsa. Masa iya tiap ada bencana kita buka tangan terus?”
Artikel Terkait
Utusan AS dan Rusia Gelar Pembicaraan Rahasia di Florida, Bahas Jalan Damai Ukraina
Balita 4 Tahun di Cilacap Tewas Dibunuh dan Dilecehkan oleh Tetangga Sendiri
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL