“Harga diri bangsa itu,” bantah yang lain, “bukan soal nolak bantuan. Tapi soal memastikan rakyatnya nggak jadi korban kebanggaan kosong.”
Kena. Gue muak sama nasionalisme yang cuma hidup di slogan. Yang galak ke luar negeri, tapi lembek ke korporasi dalam negeri. Sok mandiri di pidato, tapi nyatanya masih bergantung di banyak sektor.
Jadi, kalimat “Indonesia mampu” itu ibarat pisau bermata dua. Bisa jadi pernyataan kekuatan. Atau… tameng untuk nutupi lubang. Dan masalahnya, kita sudah terlalu sering pakai kalimat besar untuk nutupi lubang kecil yang dibiarkan membesar.
Makin ribut deh.
“Mungkin ini sinyal kepemimpinan baru. Lebih tegas,” kata sisi optimis.
“Atau cuma pengulangan gaya lama,” sahut sisi skeptis. “Kuat di citra, lambat di sistem.” Polanya klasik: sekali krisis, pejabat sibuk bilang “kita mampu”. Lupa bahwa korban nggak butuh afirmasi. Mereka butuh kehadiran yang nyata.
Kalimat itu mungkin dapat tepuk tangan di forum internasional. Tapi coba tanya di tenda pengungsian. Yang ditunggu bukan martabat bangsa. Yang ditunggu air bersih, obat, logistik, dan kejelasan. Ini bikin kepala gue akhirnya capek sendiri.
Gue nggak bisa serta-merta nyalahin. Tapi menelan mentah-mentah? Nggak bisa juga. Soalnya terlalu sering, “kami mampu” di lapangan artinya jadi: “Rakyat, tolong bertahan dulu ya.” Dan rakyat? Selalu patuh. Selalu kuat. Selalu diminta maklum.
Padahal, negara yang benar-benar mampu itu bukan yang berani nolak bantuan. Tapi yang nggak menjadikan rakyatnya tameng atas kegagalan kebijakan sendiri.
Jadi, kalau disuruh jujur, debat internal ini cuma berujung pada satu kesimpulan. Kalimat itu niatnya mungkin positif. Tapi bebannya berat banget. Begitu lo bilang “Indonesia mampu”, lo sedang mengunci diri sendiri. Mengikat janji ke jutaan orang. Janji itu nggak bisa ditebus dengan pidato lagi. Harus dengan kerja yang sunyi. Cepat, tepat, dan konsisten.
Kalau nggak, fungsi kalimatnya bisa berubah. Dari simbol kedaulatan, jadi pengingat kegagalan. Dan itu yang paling gue takutin. Bukan karena benci. Tapi karena gue capek berharap terus akhirnya kecewa. Ini bukan serangan personal. Ini cuma debat di kepala gue sendiri. Antara pengen percaya, dan pengalaman yang maksa gue untuk waspada.
Dan jujur aja… yang menang sementara ini bukan optimisme. Tapi kehati-hatian. Karena di negeri ini, yang paling sering “mampu” itu bukan negaranya. Tapi rakyatnya yang terlalu sering ditinggal.
(")
Artikel Terkait
Malaikat di Roma yang Mirip PM Meloni Picu Polemik Politik
Utusan AS dan Rusia Gelar Pembicaraan Rahasia di Florida, Bahas Jalan Damai Ukraina
Balita 4 Tahun di Cilacap Tewas Dibunuh dan Dilecehkan oleh Tetangga Sendiri
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak