Lalu, bagaimana sih sebenarnya mengukur ‘normal’ itu? Tito menjabarkan, indikatornya cukup banyak. Mulai dari pemerintahan yang berjalan, layanan publik, akses jalan, hingga hal-hal praktis yang dirasakan warga sehari-hari. Misalnya, apakah SPBU sudah buka? Listrik dan air mengalir lancar nggak? Akses internet, pasokan gas, sampai pengelolaan sampah dan sungai, semua jadi pertimbangan.
Di sisi lain, perkembangan positif sudah terlihat di beberapa sektor krusial. Akses jalan utama, misalnya, sudah berfungsi penuh. Begitu pula aliran listrik yang kini bisa dinikmati masyarakat. SPBU juga banyak yang beroperasi normal kembali.
Namun begitu, Tito mengakui masih ada pekerjaan rumah yang menanti. Perekonomian lokal, khususnya sektor UMKM, belum bergerak optimal.
“Kalau pasar sudah bergerak semua, jalan. Tapi UMKM-nya belum optimal sepenuhnya. Masih menjadi tugas kita ada pembersihan lumpur, perbaikan jembatan, jalan desa, dan daerah-daerah yang perlu kita selesaikan,” pungkasnya.
Sentuhan akhir seperti itu mengingatkan kita bahwa di balik angka yang turun, masih ada kerja keras untuk membangun kembali kehidupan yang sempat terhenti.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Salat untuk Makassar, 10 Ramadan 1447 H
Waktu Sahur di Ramadhan, Momentum Mustajab untuk Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Jadwal Imsak Surabaya Hari Ini, Sabtu 28 Februari 2026 Pukul 04:08
Pemprov NTB dan ITDC Bahas Penanganan Banjir Terpadu di KEK Mandalika