Jakarta - Di tengah dinamika perdagangan global yang makin kompleks, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyerukan pentingnya diplomasi yang lebih kuat. Tujuannya jelas: mengantisipasi berbagai hambatan, baik tarif maupun non-tarif, yang berpotensi menghadang di pasar internasional.
Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam sebuah acara di Jakarta, Jumat malam lalu.
"Diplomasi perdagangan harus semakin kuat," tegas Eddy. Menurutnya, langkah ini krusial untuk menjawab tantangan yang ada.
Eddy juga menambahkan, kerja sama dalam berbagai bentuk baik bilateral maupun non-bilateral antara negara dan juga antar pelaku usaha, harus terus jadi prioritas. GAPKI sendiri tak hanya bicara. Mereka sudah mengikat sejumlah Memorandum of Understanding (MoU) dengan asosiasi di negara-negara importir yang sangat bergantung pada minyak sawit Indonesia.
Di sisi lain, upaya diplomasi ekonomi yang digalang pemerintah mulai menunjukkan hasil nyata. Baru-baru ini, lewat kesepakatan dagang resiprokal dengan Amerika Serikat, sebanyak 173 pos tarif untuk 53 kelompok komoditas pertanian Indonesia dibebaskan dari bea masuk. Tarifnya jadi nol persen.
Ini tentu angin segar. Akses pasar AS yang legendaris ketat itu kini terbuka lebih lebar, memberi napas baru bagi daya saing produk lokal di kancah internasional.
Perjanjian yang disebut Agreements on Reciprocal Trade (ART) itu diteken langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Ini bukan sekadar dokumen, melainkan penanda penguatan kemitraan ekonomi kedua negara yang sudah lama terjalin.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membeberkan rinciannya. Dalam paket kesepakatan bertajuk "Toward a New Golden Age for the US–Indonesia Alliance" itu, total ada 1.819 pos tarif produk Indonesia meliputi pertanian dan industri yang dibebaskan bea masuknya.
Lalu, komoditas apa saja yang dapat fasilitas nol persen ini? Daftarnya panjang. Mulai dari buah-buahan tropis seperti pisang, nanas, mangga, durian, dan pepaya. Kopi dengan enam pos tarifnya ikut serta, begitu pula teh hijau dan teh hitam. Rempah-rempah strategis seperti lada, pala, cengkeh, hingga kayu manis dan jahe juga masuk.
Tak ketinggalan, kakao dan turunannya, minyak sawit, palm kernel oil, serta buah dan inti kelapa sawit. Produk olahan buah, tepung singkong, sampai pupuk mineral berbasis kalium turut menikmati kemudahan ini. Sebuah terobosan yang diharapkan bisa memacu ekspor lebih kencang lagi.
Artikel Terkait
PM Hungaria Magyar Desak Presiden Sulyok Mundur, Ancam Pakai Jalur Hukum
Jaksa Tuntut Hukuman Mati untuk Pengedar 50 Kg Sabu di Padang
2,15 Juta Peserta BPJS PBI yang Dinonaktifkan Telah Direaktivasi
Ketua MPR: Survei Kemenag Sebut Indonesia Salah Satu Negara Paling Rukun