Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Kabul, Nyatakan Perang Terbuka dengan Taliban Afghanistan

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 03:10 WIB
Pakistan Lancarkan Serangan Udara ke Kabul, Nyatakan Perang Terbuka dengan Taliban Afghanistan

Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan akhirnya meledak menjadi perang terbuka. Hubungan kedua negara tetangga ini memang sudah memanas berbulan-bulan, dan kini situasinya benar-benar tak terkendali.

Perang ini pecah pada Jumat, 27 Februari. Pemicunya adalah serangan militer Kabul ke pos-pos perbatasan Pakistan sehari sebelumnya, yang disebut Taliban sebagai balasan atas serangan udara Pakistan sebelumnya. Namun begitu, akar masalahnya jauh lebih dalam. Sejak bentrokan mematikan Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang, sebagian besar perlintasan perbatasan sudah ditutup. Kepercayaan antara kedua pihak nyaris tidak ada.

Islamabad terus menuduh pemerintah Taliban di Kabul gagal menindak kelompok militan yang mereka anggap kerap menyerang wilayah Pakistan. Tuduhan itu dibantah mentah-mentah oleh Kabul. Beberapa kali negosiasi digelar, dengan Qatar dan Turki mencoba jadi penengah. Sayangnya, semua upaya itu gagal. Gencatan senjata yang dihasilkan cuma bertahan sebentar, lalu situasi kembali memanas.

Ibu Kota Kabul Dibombardir

Respon Pakistan datang keras. Pada Jumat itu juga, militer mereka membombardir sejumlah kota besar Afghanistan, tak terkecuali ibu kota Kabul. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, tak ragu menyatakan kedua negara kini berada dalam kondisi "perang terbuka". Pernyataannya tegas: "Kesabaran kami telah mencapai batasnya. Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda."

Suasana di Kabul dan Kandahar saat itu mencekam. Menurut laporan jurnasis dan warga di lokasi, rentetan ledakan keras dan suara jet tempur yang terbang rendah terdengar jelas selama lebih dari dua jam. Tembakan-tembakan menyusul di belakangnya.

Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengonfirmasi serangan itu melalui media sosial. "Target pertahanan Taliban Afghanistan menjadi sasaran di Kabul, Paktia, dan Kandahar," tulisnya. Kandahar sendiri adalah wilayah penting, tempat pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada, bermarkas.

Di sisi lain, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengakui memang ada serangan udara. Namun, dia bersikeras bahwa serangan itu tidak menimbulkan korban jiwa. Klaim ini tentu saja bertolak belakang dengan gambaran situasi yang dilaporkan dari lapangan.

Kini, kedua negara telah saling menghunus pedang. Setelah berbulan-bulan penuh ketidakpastian dan saling tuduh, jalan dialog sepertinya telah tertutup. Apa yang terjadi selanjutnya, hanya waktu yang bisa menjawab.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar