Ada angin segar yang berhembus dari sektor kakao nasional. Setelah sempat tertekan oleh tantangan produktivitas, komoditas yang satu ini mulai menunjukkan sinyal bangkit. Bahkan, produksinya diproyeksikan melangkah naik pada tahun 2026 mendatang.
Angka-angka terbaru cukup menggembirakan. Catatan Statistik Perkebunan menyebutkan, produksi kakao kita di tahun 2024 lalu mencapai 617 ribu ton, berasal dari lahan seluas 1,37 juta hektare. Untuk 2025 ini, angkanya sementara dipatok di 616 ribu ton. Namun, tahun depan diproyeksi bisa melesat ke 635 ribu ton dengan luas areal sedikit bertambah. Kenaikan ini datang di saat yang tepat, mengingat harga kakao global sedang menguat dan permintaan pasar internasional terus merangkak naik.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman punya penekanan khusus. Menurutnya, kebangkitan ini harus diarahkan pada dua hal: produktivitas dan hilirisasi.
Faktanya, sekitar 99 persen kebun kakao nasional memang ada di tangan pekebun rakyat. Mereka menyumbang lebih dari 616 ribu ton produksi di 2024 dan menjadi sandaran hidup bagi sekitar 1,5 juta kepala keluarga. Wilayah Sulawesi masih jadi tulang punggungnya, dengan kontribusi lebih dari 60 persen atau sekitar 378 ribu ton. Sumatera menyusul di belakang dengan sumbangan sekitar 164 ribu ton, dimana Lampung dan Sumatera Utara adalah penyumbang utama di pulau tersebut.
Di sisi perdagangan, nilai ekspor kita juga tak main-main. Tahun lalu, 348 ribu ton kakao Indonesia dikapalkan ke luar negeri, dengan nilai mencapai US$ 2,65 miliar. Tren ekspor dari 2021 hingga 2025 tetap menunjukkan peran kita yang signifikan di panggung global, dengan tujuan utama tersebar di Asia, Eropa, dan Amerika.
Artikel Terkait
Nelayan di Pacitan Tewas Diduga Terseret Ombak Saat Melaut
Ragnar dan Verdonk Pulang Bareng ke Eropa, Bawa Misi Berbeda ke Klub Masing-masing
Malaysia dan Filipina Gagal Lolos, Empat Wakil ASEAN Siap Berlaga di Piala Asia 2027
Kebakaran Ruko di Wamena Tewaskan 11 Orang, Termasuk Balita 2 Tahun