BEIRUT Lagi-lagi, kabar duka datang dari pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon. UNIFIL mengonfirmasi dua personelnya tewas dalam sebuah serangan di selatan negara itu. Yang membuat situasi makin suram, ini adalah insiden kedua yang menimpa mereka dalam waktu kurang dari sehari.
Sebelumnya, pada Minggu malam, seorang prajurit TNI gugur dan tiga rekannya cedera akibat tembakan artileri Israel di dekat Desa Adchit Al Qusayr. Rentetan insiden ini jelas mengkhawatirkan.
Menurut keterangan resmi, korban terbaru sedang melakukan patroli rutin di sekitar Bani Hayyan. Tiba-tiba saja, kendaraan yang mereka tumpangi hancur oleh ledakan bom. Asal-usul serangan itu sendiri masih gelap.
"Dua pasukan penjaga perdamaian UNIFIL gugur secara tragis di Lebanon selatan hari ini, ketika ledakan yang tidak diketahui asalnya menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan,"
demikian bunyi pernyataan resmi UNIFIL, Selasa (31/3/2026).
Dua personel lain juga menjadi korban, dengan kondisi salah satunya dilaporkan parah. Suasana di markas misi perdamaian itu pastinya berat.
"Kami menegaskan kembali bahwa tidak seorang pun seharusnya meninggal dunia demi perdamaian,"
tegas pernyataan itu lagi, menyiratkan kekecewaan yang mendalam.
Belasungkawa pun mengalir untuk keluarga, sahabat, dan rekan sejawat para korban. Mereka disebut telah mengorbankan nyawa untuk sesuatu yang seharusnya damai. Di tengah duka, UNIFIL tak tinggal diam. Mereka sudah membuka penyelidikan mendalam untuk mengungkap kebenaran di balik insiden memilukan ini.
Di sisi lain, desakan keras juga dilayangkan. UNIFIL mendesak semua pihak yang bertikai untuk mematuhi hukum internasional. Keselamatan personel dan aset PBB harus dijamin. Mereka juga meminta agar setiap tindakan yang bisa membahayakan pasukan biru itu dihindari.
Poin pentingnya: menyerang pasukan penjaga perdamaian dengan sengaja bukanlah hal sepele. Itu adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional, plus melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701. Bahkan, tindakan semacam itu bisa digolongkan sebagai kejahatan perang. Situasi di perbatasan yang sudah panas ini jelas membutuhkan penanganan ekstra hati-hati dari semua pihak.
Artikel Terkait
OJK: Program Penjaminan Polis Jadi Fondasi Baru Perlindungan Pemegang Polis
Joey Pelupessy Akui Duet dengan Ivar Jenner di Lini Tengah Timnas Indonesia Mulai Tumbuh
Trump Klaim Iran Tembak Jatuh Helikopter Apache AS di Selat Hormuz, Dua Pilot Selamat
TNI Bantah Sekolah di Ende Digusur untuk Bangun Koperasi, Beberkan Kronologi Kerusakan Bangunan