Ramadhan Sananta Dihujat Rasis Usai Laga, Gelombang Kecaman Bergulir

- Senin, 30 Maret 2026 | 00:00 WIB
Ramadhan Sananta Dihujat Rasis Usai Laga, Gelombang Kecaman Bergulir

Gelombang kecaman lagi-lagi muncul. Kali ini, dunia sepak bola Indonesia yang gempar. Isunya masih sama: rasisme. Dan yang jadi sasaran adalah Ramadhan Sananta, penyerang Timnas kita.

Semuanya berawal usai laga FIFA Matchday melawan Saint Kitts and Nevis. Performa Sananta dinilai banyak yang kurang memuaskan. Kritik terhadap permainan memang hal biasa. Tapi yang terjadi kemudian melenceng jauh. Di media sosial, bertebaran komentar bernada negatif, bahkan rasis, yang secara khusus menyasar sang pemain. Sungguh miris.

Reaksi pun berdatangan. Banyak pihak langsung mengecam keras tindakan segelintir oknum netizen itu. Kampanye "No Rasisme" bergaung lagi sebagai bentuk solidaritas untuk Sananta. Suasana jadi panas.

Batas Antara Kritik dan Rasisme

Memang, dalam olahraga kompetitif seperti sepak bola, kritik terhadap performa pemain itu wajar adanya. Namun begitu, ada batas yang tak boleh dilangkahi. Ketika kritik berubah jadi serangan personal, apalagi bermuatan rasis, itu sudah melanggar nilai sportivitas paling dasar.

Memang benar, Sananta tampil di bawah ekspektasi di pertandingan itu. Tapi, siapa sih yang tidak pernah punya hari buruk?

Seperti diungkapkan seorang pengamat, "Dalam sepak bola, naik-turun performa adalah hal biasa. Tidak ada pemain yang selalu tampil sempurna."

Pernyataan itu sederhana, tapi sering terlupa. Kita mudah menghakimi, lupa bahwa di balik jersey itu ada manusia yang punya perasaan.

Masa Depan di Ujung Tanduk

Sananta sejatinya adalah salah satu aset muda potensial. Ia digadang-gadang jadi masa depan lini depan Timnas. Justru karena itulah, dukungan dari suporter amat krusial bagi perkembangan mentalnya. Tekanan berlebihan? Itu hanya akan menghambat.

Alih-alih menghujat, memberikan motivasi agar ia bisa bangkit di laga berikutnya jauh lebih penting. Sepak bola bukan cuma soal menang atau kalah satu pertandingan. Ini tentang proses panjang membangun seorang pemain.

Ruang yang Semestinya Aman

Kasus Sananta ini adalah pengingat pahit. Isu rasisme ternyata masih jadi masalah serius di sepak bola tanah air. Kampanye anti-rasisme harus terus digemakan. Tujuannya jelas: agar lapangan hijau dan ruang diskusi tentangnya tetap menjadi tempat yang aman dan inklusif untuk semua.

FIFA sendiri sudah lama punya kebijakan "Say No to Racism". Itu diterapkan di setiap laga internasional. Prinsip yang sama harusnya mengakar kuat di sini.

Lantas, Harapan ke Depan?

Pertama, kedewasaan publik dalam menyikapi performa pemain mutlak diperlukan. Kritik yang membangun itu perlu, tapi sampaikan dengan cara yang elegan, tanpa kebencian dan jauh dari rasisme.

Kedua, jangan lupakan fakta bahwa Ramadhan Sananta tetaplah aset berharga. Dengan dukungan yang tepat dan suasana yang kondusif, bukan mustahil ia akan berkembang jadi striker pilihan yang andal.

Pada akhirnya, sepak bola itu seharusnya menyatukan. Bukan memecah belah. Sudah waktunya kita semua bersikap. Berdiri bersama, tegas menolak rasisme dalam bentuk apapun.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar