Gelombang kecaman lagi-lagi muncul. Kali ini, dunia sepak bola Indonesia yang gempar. Isunya masih sama: rasisme. Dan yang jadi sasaran adalah Ramadhan Sananta, penyerang Timnas kita.
Semuanya berawal usai laga FIFA Matchday melawan Saint Kitts and Nevis. Performa Sananta dinilai banyak yang kurang memuaskan. Kritik terhadap permainan memang hal biasa. Tapi yang terjadi kemudian melenceng jauh. Di media sosial, bertebaran komentar bernada negatif, bahkan rasis, yang secara khusus menyasar sang pemain. Sungguh miris.
Reaksi pun berdatangan. Banyak pihak langsung mengecam keras tindakan segelintir oknum netizen itu. Kampanye "No Rasisme" bergaung lagi sebagai bentuk solidaritas untuk Sananta. Suasana jadi panas.
Batas Antara Kritik dan Rasisme
Memang, dalam olahraga kompetitif seperti sepak bola, kritik terhadap performa pemain itu wajar adanya. Namun begitu, ada batas yang tak boleh dilangkahi. Ketika kritik berubah jadi serangan personal, apalagi bermuatan rasis, itu sudah melanggar nilai sportivitas paling dasar.
Memang benar, Sananta tampil di bawah ekspektasi di pertandingan itu. Tapi, siapa sih yang tidak pernah punya hari buruk?
Seperti diungkapkan seorang pengamat, "Dalam sepak bola, naik-turun performa adalah hal biasa. Tidak ada pemain yang selalu tampil sempurna."
Pernyataan itu sederhana, tapi sering terlupa. Kita mudah menghakimi, lupa bahwa di balik jersey itu ada manusia yang punya perasaan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Nilai PP TUNAS Bentuk Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak
17 Warga Gugat Ditreskrimum Polda Metro Jaya atas Penanganan Kasus Ijazah Jokowi
Putri Wakil DPRD Sulsel Kelola 41 Dapur Makanan Gratis Senilai Rp61,5 Miliar
Idrus Marham Kritik Komunikasi Pemerintah, Juru Bicara dan Menteri Dinilai Belum Maksimal