Secara terpisah, Abdul Roni Angkat selaku Plt. Dirjen Perkebunan mengomentari lonjakan harga. Ia bilang, kenaikan harga domestik tahun ini sejalan dengan tren global yang memang sedang panas.
Momentum harga tinggi ini, lanjutnya, harus dimanfaatkan untuk mengakselerasi transformasi sektor kakao ke arah hilirisasi. Pemerintah mendorong penguatan industri pengolahan, mulai dari biji fermentasi, cocoa liquor, cocoa butter, sampai ke produk cokelat jadi. Tujuannya jelas: agar nilai tambah tidak mandek di hulu saja.
Dengan basis areal yang luas lebih dari 1,3 juta hektare dan melibatkan jutaan petani, peran kakao jelas sangat strategis untuk menguatkan ekonomi daerah, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Proyeksi peningkatan produksi di 2026 diharapkan bukan sekadar angka. Itu harus menjadi titik balik awal dari kebangkitan kakao nasional menuju sistem usaha yang lebih produktif, berkelanjutan, dan tentu saja, bernilai tambah tinggi.
Artikel Terkait
Nelayan di Pacitan Tewas Diduga Terseret Ombak Saat Melaut
Ragnar dan Verdonk Pulang Bareng ke Eropa, Bawa Misi Berbeda ke Klub Masing-masing
Malaysia dan Filipina Gagal Lolos, Empat Wakil ASEAN Siap Berlaga di Piala Asia 2027
Kebakaran Ruko di Wamena Tewaskan 11 Orang, Termasuk Balita 2 Tahun