Produksi Kakao Nasional Diproyeksi Naik Jadi 635 Ribu Ton pada 2026

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 19:00 WIB
Produksi Kakao Nasional Diproyeksi Naik Jadi 635 Ribu Ton pada 2026

Ada angin segar yang berhembus dari sektor kakao nasional. Setelah sempat tertekan oleh tantangan produktivitas, komoditas yang satu ini mulai menunjukkan sinyal bangkit. Bahkan, produksinya diproyeksikan melangkah naik pada tahun 2026 mendatang.

Angka-angka terbaru cukup menggembirakan. Catatan Statistik Perkebunan menyebutkan, produksi kakao kita di tahun 2024 lalu mencapai 617 ribu ton, berasal dari lahan seluas 1,37 juta hektare. Untuk 2025 ini, angkanya sementara dipatok di 616 ribu ton. Namun, tahun depan diproyeksi bisa melesat ke 635 ribu ton dengan luas areal sedikit bertambah. Kenaikan ini datang di saat yang tepat, mengingat harga kakao global sedang menguat dan permintaan pasar internasional terus merangkak naik.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman punya penekanan khusus. Menurutnya, kebangkitan ini harus diarahkan pada dua hal: produktivitas dan hilirisasi.

“Pekebun adalah kuncinya. Hampir semua kebun kakao kita dikelola rakyat. Makanya, peremajaan kebun, penggunaan benih unggul, dan pendampingan intensif wajib jadi prioritas. Jangan cuma ekspor bahan mentah, kita harus perkuat hilirisasi agar nilai tambahnya dinikmati di dalam negeri,” tegas Amran.

Faktanya, sekitar 99 persen kebun kakao nasional memang ada di tangan pekebun rakyat. Mereka menyumbang lebih dari 616 ribu ton produksi di 2024 dan menjadi sandaran hidup bagi sekitar 1,5 juta kepala keluarga. Wilayah Sulawesi masih jadi tulang punggungnya, dengan kontribusi lebih dari 60 persen atau sekitar 378 ribu ton. Sumatera menyusul di belakang dengan sumbangan sekitar 164 ribu ton, dimana Lampung dan Sumatera Utara adalah penyumbang utama di pulau tersebut.

Di sisi perdagangan, nilai ekspor kita juga tak main-main. Tahun lalu, 348 ribu ton kakao Indonesia dikapalkan ke luar negeri, dengan nilai mencapai US$ 2,65 miliar. Tren ekspor dari 2021 hingga 2025 tetap menunjukkan peran kita yang signifikan di panggung global, dengan tujuan utama tersebar di Asia, Eropa, dan Amerika.

Secara terpisah, Abdul Roni Angkat selaku Plt. Dirjen Perkebunan mengomentari lonjakan harga. Ia bilang, kenaikan harga domestik tahun ini sejalan dengan tren global yang memang sedang panas.

“Harga di dalam negeri bergerak mengikuti penguatan signifikan harga global. Ini peluang besar buat pekebun untuk menambah pundi-pundi pendapatan. Kami mendorong peningkatan kualitas, terutama proses fermentasi, agar harga di tingkat petani bisa optimal,” ujar Roni.

Momentum harga tinggi ini, lanjutnya, harus dimanfaatkan untuk mengakselerasi transformasi sektor kakao ke arah hilirisasi. Pemerintah mendorong penguatan industri pengolahan, mulai dari biji fermentasi, cocoa liquor, cocoa butter, sampai ke produk cokelat jadi. Tujuannya jelas: agar nilai tambah tidak mandek di hulu saja.

“Dengan perbaikan produktivitas dan kualitas, kita bukan cuma memperkuat posisi sebagai produsen, tapi juga sebagai pemain kunci dalam rantai pasok kakao olahan dunia. Hilirisasi ini strategi untuk jaga stabilitas harga, tingkatkan daya saing, dan pastikan kesejahteraan pekebun,” tegasnya lagi.

Dengan basis areal yang luas lebih dari 1,3 juta hektare dan melibatkan jutaan petani, peran kakao jelas sangat strategis untuk menguatkan ekonomi daerah, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Proyeksi peningkatan produksi di 2026 diharapkan bukan sekadar angka. Itu harus menjadi titik balik awal dari kebangkitan kakao nasional menuju sistem usaha yang lebih produktif, berkelanjutan, dan tentu saja, bernilai tambah tinggi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar