Diplomasi Terancam, Dunia Beralih dari Jaw-Jaw ke Senjata

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 17:25 WIB
Diplomasi Terancam, Dunia Beralih dari Jaw-Jaw ke Senjata

Membeli Damai & Menjual Perang?

Oleh Jimmy H Siahaan

Lagu "Happy Xmas (War Is Over)" dari John Lennon dan Yoko Ono bukan sekadar lagu Natal. Ia lahir dari kegelisahan mendalam terhadap Perang Vietnam, menyuarakan seruan agar perang diakhiri jika kita benar-benar menginginkannya. Slogan "War is Over (If You Want It)" yang mereka sebarkan lewat poster di berbagai kota tahun 1969, menjadi inti dari lagu itu. Sebuah ajakan untuk merayakan persatuan, bukan konflik.

Pesan perdamaian semacam itu ternyata masih relevan hingga sekarang. Bahkan jadi bahan perbincangan di kalangan elite politik.

Ambil contoh Donald Trump. Pernah suatu kali ia berujar, mendamaikan Rusia-Ukraina atau Israel-Hamas bisa jadi "tiket" masuk surganya. Katanya, ia butuh perbuatan baik untuk "meningkatkan peluang". Di kesempatan lain, ia malah meragukan dirinya sendiri bakal diterima di surga, meski bangga telah "membuat hidup banyak orang lebih baik".

Namun begitu, kepercayaan terhadap pihak yang kerap jadi mediator justru merosot. Survei Institut Sosiologi Internasional Kyiv (KIIS) akhir 2025 menunjukkan fakta mencengangkan. Kepercayaan publik Ukraina terhadap NATO anjlok ke 34%, dari sebelumnya 43%. Terhadap AS? Jatuh lebih dalam lagi, tinggal 21% dari 41% setahun sebelumnya.

"Data ini menunjukkan penurunan signifikan," begitu bunyi pernyataan KIIS yang dikutip media.

Pelemahan ini terjadi di tengah upaya mediasi AS untuk mengakhiri perang. Washington sendiri sejauh ini menolak menerima Ukraina sebagai anggota NATO atau mengirim pasukannya ke sana. Situasi yang cukup ironis, bukan?

Di sisi lain, sejarah punya catatan panjang tentang nilai diplomasi. Perdana Menteri Inggris Harold Macmillan pernah bilang, "berbicara lebih baik daripada berperang." Presiden AS John F. Kennedy juga paham betul soal jalur diplomatik dan kebrutalan politik. Keduanya punya pengalaman pahit di medan perang Macmillan terluka parah di PD I, Kennedy cedera punggung saat bertugas di Angkatan Laut tahun 1943.

Dunia seharusnya belajar dari dua perang dunia yang menewaskan puluhan juta jiwa itu. Konflik Rusia-Ukraina yang sudah menelan sekitar dua juta korban harus diakhiri. Yang terpenting, untuk menghindari skenario terburuk: Perang Dunia III.

Tapi sepertinya pelajaran itu memudar. Andrew Mitchell, mantan menteri kabinet Inggris, mengkhawatirkan hal itu. "Dunia telah melupakan pelajaran dari Perang Dunia Pertama, ketika jutaan orang dibantai dan generasi kakek kita mengatakan kita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi lagi," ujarnya.

Ada teori akademis yang menyebut perang besar berulang tiap sekitar 85 tahun, karena generasi baru melupakan pengalaman berdarah pendahulunya. Mitchell menambahkan, meski bukti menunjukkan dunia sedang menuju arah salah, pemerintah justru melupakan nilai "jaw-jaw".

"Jaw-jaw" itu istilah sehari-hari untuk obrolan panjang, yang dipopulerkan Winston Churchill dalam ungkapan, "Jaw-jaw lebih baik daripada perang-perang." Intinya, diplomasi dan negosiasi harus diutamakan.

Sayangnya, naluri diplomatik itu tergerus. Bukan cuma dalam retorika, tapi juga anggaran. Negara-negara Barat justru memotong investasi untuk "kekuatan lunak" memangkas bantuan asing dan menyusutkan jaringan diplomatik. Sumber daya dialihkan ke pertahanan.

Ini yang terjadi: tahun 2024 lalu, belanja militer global melonjak 9,4% ke rekor tertinggi menurut catatan Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm. Sebaliknya, bantuan pembangunan resmi dari negara donor terkaya justru turun 9% di tahun yang sama, dan diprediksi turun lagi tahun ini.

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyoroti hal mengkhawatirkan. "Untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat memangkas Deplu mereka pada tahun 2024," bunyi laporannya.

Jika pemangkasan berlanjut di 2025, ini akan jadi pertama kalinya keempat negara itu memotong anggaran diplomatik dua tahun berturut-turut.

Korps diplomatik pun menyusut. Donald Trump memberi sinyal dengan memangkas pekerjaan di Departemen Luar Negeri AS. Belanda, Inggris, dan Uni Eropa juga memberi peringatan soal pemotongan staf diplomatik.

Analis khawatir. Ketika negara-negara industri mengabaikan diplomasi dan bantuan, lalu fokus membangun militer, kekosongan pengaruh itu akan diisi pihak lain. Rusia, Tiongkok, atau Turki bisa masuk, mengubah negara-negara di Afrika dan Asia yang dulunya bersahabat, menjadi melawan Barat. Dunia akan jadi tempat yang jauh lebih berbahaya.

Jika prioritas geopolitik dijalankan seperti pasar, trennya jelas. Banyak pemimpin memutuskan waktunya "menjual perdamaian dan membeli perang".

Lalu, bagaimana dengan perdamaian saat ini? Nyatanya, perang belum berakhir.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menanggapi tuntutan terbaru Vladimir Putin usai konferensi pers maraton sang presiden Rusia. Rubio menekankan, perdamaian bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak bukan retorika. AS, katanya, tidak akan memaksakan kesepakatan dan menolak negosiasi di depan publik.

"Hanya Washington yang dapat melibatkan Kyiv dan Moskow untuk menguji apakah perdamaian mungkin terjadi," begitu kira-kira poinnya.

Rubio meragukan klaim perdamaian Putin. Ia bicara soal "kata-kata vs tindakan".

Pada akhirnya, mediasi AS untuk perang Rusia-Ukraina masih tertunda. Kedua pihak belum juga bersepakat. Dunia selalu membuktikan: memulai perang itu mudah, mengakhirinya sangatlah sulit.

War not over. Perang belum berakhir. Perdamaian tertunda lagi. Dan posisi Rusia, untuk saat ini, masih di atas angin untuk menolak syarat-syarat perdamaian.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar