JAKARTA – Lagi-lagi, Komite Disiplin PSSI menunjukkan taringnya. Sidang terbaru mereka menghasilkan sejumlah denda yang harus ditanggung klub-klub di BRI Super League 2025/2026. Ketegasan itu tak main-main.
Yang paling menyita perhatian adalah sanksi untuk Persis Solo dan Borneo FC Samarinda. Keduanya dihukum denda Rp100 juta masing-masing. Penyebabnya? Bukan kericuhan atau pelanggaran brutal, tapi soal waktu. Laga mereka pada 23 Januari lalu molor 105 detik di babak kedua karena kedua tim terlambat masuk lapangan.
Memang cuma 1 menit 45 detik. Tapi bagi Komdis, ini pelanggaran serius terhadap prosedur tetap kompetisi. "Kedisiplinan waktu adalah hal fundamental," begitu kira-kira prinsip yang mereka pegang. Alhasil, kocek kedua klub harus terkuras dengan jumlah yang sama besarnya.
Di sisi lain, Bhayangkara Presisi Lampung FC juga tak luput. Mereka harus merogoh Rp60 juta setelah lima pemain dan satu ofisialnya dikartu kuning dalam laga melawan Persita Tangerang. Tampaknya, akumulasi kartu kuning yang dianggap mencerminkan kegagalan menjaga sportivitas tim.
Larangan suporter tamu pun masih jadi aturan yang dipatroli ketat. Persebaya Surabaya menjadi korbannya, didenda Rp25 juta karena membawa pendukungnya ke kandang PSIM Yogyakarta.
Sementara itu, ada juga sanksi untuk hal-hal yang terkesan sepele tapi ternyata penting. PSBS Biak, misalnya, kena denda Rp50 juta cuma karena telat kirim E-startlist. Lalu, panitia pelaksana laga Dewa United kena getah Rp40 juta. Alasannya? Mereka lupa sediakan kulkas di ruang ganti kedua tim saat menjamu Arema FC. Bayangkan, pemain habis bertarung 90 menit tapi tak ada minuman dingin. Bisa dimengerti kenapa Komdis marah.
Nah, di luar liga utama, riuhnya sanksi juga terjadi di kompetisi kasta di bawahnya. Mulai dari Pegadaian Championship hingga Liga Nusantara, banyak pihak yang kena batunya.
Seperti Sriwijaya FC yang didenda karena pelatihnya, Budi Sudarsono, mangkir dari konferensi pers. Atau PSIS Semarang yang kena dua kali pukul: Rp25 juta karena lima kartu kuning, dan Rp25 juta lagi karena personelnya tak pakai ID Card di area official.
Masalah suporter lagi-lagi jadi sumber masalah. PSS Sleman kena denda Rp15 juta karena ada oknum yang melempar botol air ke arah pemain lawan. PSPS Pekanbaru bahkan kena sanksi lebih berat: dilarang gelar laga dengan penonton untuk satu pertandingan, plus denda, setelah suporternya nyanyi hinaan, meludahi tim tamu, sampai melempar bus.
Yang parah terjadi di kandang Sriwijaya FC. Pasca-laga melawan Sumsel United, terjadi kerusuhan, fasilitas stadion dirusak, suporter masuk lapangan, hingga pengeroyokan terhadap steward. Hukumannya: larangan tampil dengan penonton untuk dua laga kandang berikutnya.
Tak hanya klub, individu pemain dan ofisial juga jadi sasaran. Sebut saja Sibli (PSM U16) yang kena skors tambahan karena kartu merah. Atau yang ekstrem, ofisial Bhayangkara U16, Achmad Zein Nuralif, dihukum larangan mendampingi tim selama 6 bulan setelah ketahuan memukul wasit. Sungguh tindakan yang tak bisa ditoleransi.
Dari sekian banyak kasus, ada satu yang unik dan agak menggelitik. Panitia pelaksana laga Persipura Jayapura hanya dapat teguran keras. Sebabnya, pemain tim tamu cedera karena menabrak alat penyiram rumput lapangan sebelum pertandingan. Ini menunjukkan bahwa Komdis juga memperhatikan aspek keamanan fasilitas, sekalipun sanksinya tidak berupa denda.
Secara keseluruhan, rentetan keputusan Komdis ini menyiratkan pesan yang jelas: kedisiplinan harus ditegakkan di semua lini, dari hal teknis seperti ketepatan waktu, hingga hal besar seperti pengendalian suporter. Soal efektivitasnya? Itu cerita lain. Tapi setidaknya, sinyal tegas sudah dikirim.
Artikel Terkait
Raymond/Joaquin Siap Sambut Debut dan Target Juara di All England 2026
Pelatih Persija Yakini Perburuan Gelar Masih Terbuka Meski Tertinggal 6 Poin dari Persib
PSM Uji Duet Bek Baru Lawan Dewa United Tanpa Kapten Yuran
Eric Garcia Kritik VAR dan Wasit Usai Barcelona Dibantai Atletico Madrid