Jakarta, Jumat siang (13/2/2026). Usai menghadiri Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer BPI Danantara, berbincang dengan sejumlah wartawan. Intinya? Sovereign Wealth Fund (SWF) milik negara ini punya rencana besar untuk pasar modal dalam negeri.
Rencananya, separuh dari total dana kelolaan atau asset under management (AUM) Danantara akan dialokasikan ke instrumen publik. "Jadi kita bilang 50 persen akan public like investment," ujar Pandu.
Menurutnya, pilihan itu masuk akal. "Itu bagian dari strategic asset allocation. Itu bisa di bond, bisa di public equity," tambahnya. Alasan utamanya jelas: likuiditas. Saham dan obligasi dinilai lebih mudah dicairkan, sehingga memberikan fleksibilitas sekaligus peluang keuntungan bagi negara.
Namun begitu, Danantara tak akan asal masuk. Untuk saham, mereka akan sangat selektif. Targetnya adalah emiten-emiten pilihan dengan fundamental bisnis yang kuat. Arus kas yang sehat jadi prasyarat, ditambah dengan valuasi yang menarik. Likuiditas saham di pasar juga menjadi pertimbangan krusial agar mereka bisa "perform" dengan baik.
Strategi ini seolah menangkap gelombang baru di kalangan investor. Di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, preferensi pelaku pasar perlahan bergeser kembali ke fundamental yang solid. Danantara, rupanya, ingin berada di garda depan tren ini.
Pendekatannya pun jelas: fundamental dan jangka panjang. Pandu bahkan menyebut, perseroan akan aktif berinvestasi, bisa saja setiap hari. Aktivitas ini sekaligus mendukung upaya pendalaman pasar yang digalakkan OJK dan Bursa Efek.
Di sisi lain, Danantara tidak hanya melihat angka-angka. Kualitas tata kelola perusahaan dan tingkat keterbukaan informasinya akan turut disorot. Bagi Pandu, penguatan struktur pasar dan tata kelola bukanlah hal sekunder. Itu adalah prasyarat mutlak untuk membangun kepercayaan dan mendalami pasar keuangan nasional.
"Yang penting kan masuk di public equity, itu kita harus perusahaan yang bagus, fundamental yang baik, valuasi yang baik dan juga likuid, harus likuid," pungkasnya menegaskan.
Langkah Danantara ini dipantau banyak pihak. Sebagai pengelola investasi negara, keputusannya tak hanya soal return, tetapi juga tentang penguatan fondasi pasar keuangan Indonesia ke depan.
Artikel Terkait
Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp936,26 Miliar, Setara Rp20 per Saham
Wismilak Bagikan Dividen Rp217,87 Miliar, Laba Bersih Naik 40 Persen di 2025
IHSG Menguat ke 6.206, Analis Peringatkan Potensi Koreksi ke Level 5.899
BEI Ajak Emiten Berdialog demi Kembalikan Saham ke Indeks Global