Refleksi atas Hari Pers Nasional 2026
Sudah dua hari berlalu sejak peringatan Hari Pers Nasional. Di Makassar, seperti biasa, percakapan tentang peran pers pelan-pelan tenggelam lagi. Ditelan arus informasi yang tak pernah berhenti bergerak. Fenomena yang kini jadi pemandangan sehari-hari: berita seringkali bukan lagi milik media resmi yang datang lebih dulu. Rekaman peristiwa goyangan kamera ponsel, teriakan, potongan adegan sudah beredar luas di grup-grup percakapan jauh sebelum redaksi menyusun narasi utuh.
Di ruang inilah, pers dan media sosial berbagi panggung. Saling sikut, tapi juga saling melengkapi dalam cara yang aneh. Persepsi publik tumbuh liar dari potongan video dan komentar singkat, seringkali sebelum verifikasi tuntas dilakukan.
Perubahan ini nyata-nyata mengubah cara kebenaran diproduksi di ruang publik kita. Dulu, pers memegang kendali sebagai gerbang utama. Legitimasinya dibangun dari struktur redaksi yang ketat, proses verifikasi berlapis, dan tentu saja, tanggung jawab hukum yang jelas. Sekarang? Struktur itu harus hidup berdampingan dengan logika baru: algoritma dan viralitas. Informasi menyebar mengikuti pola perhatian massa, bukan lagi urutan editorial yang rapi.
Filsuf Michel Foucault pernah mengingatkan, kebenaran tak pernah lahir dalam ruang hampa. Ia selalu hadir dalam relasi kuasa. Mekanisme sosial-lah yang menentukan apa yang terlihat dan apa yang luput dari pandangan. Dulu, pers memegang peran dominan dalam mekanisme itu. Kini, kekuasaan itu terbagi. Algoritma platform digital ikut campur menentukan visibilitas. Apa yang ramai dianggap penting. Yang sepi, dengan mudah tersingkir dari radar.
Dinamika ini terasa sangat konkret di Makassar dan banyak wilayah Indonesia Timur. Sebuah insiden kecil di jalan protokol bisa lebih dulu ramai di grup WhatsApp keluarga. Isu sosial menyebar lewat unggahan "story" Instagram pribadi sebelum akhirnya diolah menjadi laporan berita. Ribuan orang membaca, bereaksi, marah, atau senang dalam hitungan menit. Singkatnya, emosi bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi.
Gilles Deleuze dan Félix Guattari punya gambaran menarik: dunia sebagai jaringan rizoma yang tumbuh ke segala arah tanpa pusat tunggal. Media sosial bekerja persis dengan logika seperti itu. Informasi menyebar secara lateral, melompat dari satu kluster ke kluster lain. Tak ada gerbang sentral yang mengatur. Sementara itu, pers tradisional tetap berjalan lewat jalur yang lebih tertata: reporter turun ke lapangan, editor menyunting, fakta diverifikasi. Dua logika yang berbeda ini kini harus hidup berdampingan, dan ketegangan di antara mereka nyaris tak terhindarkan.
Namun begitu, seringkali relasi ini cuma dibingkai sebagai pertentangan hitam-putih. Pers dianggap ketinggalan zaman, media sosial dilihat sebagai kekacauan yang tak terkendali. Padahal, gambaran sederhana itu justru menutupi kompleksitas yang sebenarnya terjadi. Media sosial memang jago dalam hal distribusi cepat dan menjangkau banyak orang. Tapi pers, dengan segala kekurangannya, masih memikul tanggung jawab untuk pendalaman dan konfirmasi fakta. Masalahnya, ketegangan makin menjadi ketika logika klik dan trafik mulai menggerogoti cara berita disusun di redaksi.
Franco 'Bifo' Berardi menulis soal kelelahan di masyarakat yang dibombardir rangsangan tanpa henti. Arus informasi yang deras ini memang memicu respons emosional yang instan. Kemarahan bisa menyebar dalam hitungan menit. Kecemasan menular lewat notifikasi yang tak henti-hentinya. Di daerah seperti Indonesia Timur, di mana ikatan sosial masih kuat, efek dari ruang digital ini dengan mudah menjalar ke percakapan warung kopi dan pertemuan keluarga.
Dalam situasi seperti inilah, peringatan Hari Pers Nasional seharusnya jadi momen evaluasi, bukan sekadar seremoni. Pers jelas menghadapi tekanan ganda: harus relevan, harus cepat, tapi juga wajib tetap akurat. Tekanan itu bukan hal sepele. Di tengah banjir digital, menjaga kepercayaan publik tanpa kehilangan kedalaman adalah pekerjaan rumah yang berat.
Achille Mbembe pernah bicara soal bagaimana kekuasaan menentukan siapa yang hidup dalam sorotan dan siapa yang dihapus dari narasi. Dalam ekonomi perhatian zaman now, perhatian adalah sumber daya yang langka. Satu peristiwa bisa jadi trending topic selama beberapa jam, lalu lenyap begitu saja tanpa tindak lanjut. Banyak persoalan lokal yang dampaknya berjangka panjang justru kesulitan dapat ruang yang memadai.
Maka, relasi antara pers dan media sosial perlu dipikirkan ulang. Mungkin pers tak lagi selalu menjadi sumber pertama. Mungkin perannya bergeser. Media sosial bisa jadi penyebar awal, pengumpul reaksi. Sementara pers memegang peran krusial untuk memverifikasi, merangkai, dan memberikan konteks yang utuh. Publik butuh keduanya. Kecepatan memberitahu kita "bahwa" sesuatu terjadi. Kedalaman membantu kita memahami "mengapa" dan "bagaimana".
Artikel Terkait
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Artileri di Lebanon Selatan
Analis Prediksi Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Naik Rp2.000 per Liter Awal April
Pemerintah Genjot Biofuel dan Bioetanol untuk Kemandirian Energi
Timnas Indonesia Hadapi Ujian Berat Lawan Bulgaria di Final FIFA Series