Hari Pers Nasional 2026: Tantangan Media di Era Dominasi Algoritma dan Viralitas

- Kamis, 12 Februari 2026 | 14:00 WIB
Hari Pers Nasional 2026: Tantangan Media di Era Dominasi Algoritma dan Viralitas

Antonio Negri menyebutnya 'multitude': publik yang aktif memproduksi makna. Warga Makassar sekarang bukan lagi pembaca pasif yang cuma terima berita. Mereka mengomentari, membagikan, menafsirkan ulang, dan membentuk narasi tandingan. Kondisi ini membuka partisipasi yang luar biasa, tapi sekaligus menuntut kedewasaan baru dalam mengelola informasi.

Gerakan literasi media, karena itu, harus dirancang sebagai strategi publik yang menyentuh kebiasaan sehari-hari. Bukan cuma sekadar mengenali hoaks. Tapi lebih dari itu: membentuk cara berpikir dan bertindak saat berhadapan dengan banjir data.

Pertama, literasi algoritma. Orang perlu paham bahwa beranda media sosial mereka disusun oleh sistem yang mengutamakan interaksi, bukan kebenaran. Konten yang provokatif dan emosional punya peluang lebih besar naik ke permukaan. Kesadaran ini bisa bikin kita lebih kritis.

Kedua, budaya jeda. Ini mungkin yang paling sulit. Di tengah dorongan untuk segera "share" atau "retweet", mengambil jeda adalah tindakan revolusioner. Membaca sampai habis, cek sumbernya, tunggu klarifikasi dari media yang punya reputasi langkah-langkah sederhana ini bisa meredam banyak kesalahpahaman.

Ketiga, kolaborasi. Media lokal di Sulsel bisa lebih membuka diri. Buat ruang dialog rutin dengan warga. Gelar forum baca berita, undang komunitas untuk diskusi. Relasi langsung semacam ini bisa memperkuat kepercayaan dan jadi saluran kritik yang konstruktif.

Keempat, produksi narasi lokal yang berkelanjutan. Anak-anak muda di Makassar dan sekitarnya perlu didorong untuk mendokumentasikan isu-isu yang sering terabaikan. Cerita tentang abrasi pantai, akses pendidikan di pelosok, atau dinamika pasar tradisional butuh penuturan yang terus-menerus, bukan sekali jadi lalu hilang. Di sinilah pers dan publik bisa benar-benar kerja berdampingan.

Refleksi Hari Pers tahun ini, intinya, menuntut pengakuan jujur: struktur informasi kita sudah berubah total. Demokrasi lokal sekarang juga berlangsung di ruang digital yang serbacepat dan padat. Pers memikul tanggung jawab etisnya. Media sosial punya kekuatan distribusi yang masif. Dan publik, ya kita semua, memikul tanggung jawab partisipasi yang lebih cerdas.

Makassar punya tradisi "kecapi" yang kaya bukan alat musik, tapi tradisi mengobrol dan berdebat. Tradisi percakapan yang dalam itu bisa jadi fondasi gerakan literasi yang autentik, yang berakar pada komunitas. Membaca berita sambil bertanya. Menulis pengalaman dengan tanggung jawab. Berdiskusi tanpa buru-buru mengambil kesimpulan. Praktik-praktik dasar ini yang akhirnya membentuk warga yang tangguh, yang mampu menavigasi dua dunia informasi sekaligus.

Pers akan terus berubah. Media sosial juga tak akan berhenti berkembang. Tantangan terbesarnya justru ada di kita: apakah sebagai masyarakat kita punya kedewasaan untuk menghadapi arus deras ini?

Hari Pers Nasional adalah pengingat bahwa informasi bukanlah komoditas biasa. Ia menyangkut kehidupan bersama. Jika publik bisa menikmati kecepatan tanpa kehilangan kedalaman, jika pers bisa menjaga integritas di tengah desakan trafik, maka ruang publik kita akan jadi sedikit lebih sehat. Kerja ini tentu tak bisa selesai dalam satu hari. Butuh komitmen berkelanjutan.

Di Makassar dan seluruh Indonesia Timur, kerja itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Sesederhana membiasakan diri untuk bertanya dulu sebelum percaya, membaca tuntas sebelum membagikan, dan benar-benar mendengar sebelum bereaksi.

Darmadi H. Tariah
Anggota Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Sulawesi Selatan

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar