Surat dari Sekjen PBB Antonio Guterres yang beredar pekan lalu membawa kabar buruk. Intinya, badan dunia itu terancam bangkrut. Dana operasional mereka diprediksi bakal kering pada Juli 2026 mendatang. Ini bukan sekadar peringatan biasa, tapi jeritan minta tolonh yang disampaikan langsung ke seluruh negara anggota.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Masalah Klasik yang Makin Parah: Tunggakan Iuran
Penyebab utamanya klasik, tapi skalanya kini mencemaskan. Banyak negara yang telat bayar, bahkan ada yang sama sekali tak membayar iuran keanggotaan. Situasi ini memaksa markas PBB di New York mengambil langkah darurat: membekukan perekrutan dan memangkas anggaran di berbagai sektor. Guterres bilang, tren saat ini jelas tidak berkelanjutan dan membuat organisasi rentan.
“Entah semua negara anggota menghormati kewajiban mereka untuk membayar secara penuh dan tepat waktu, atau negara anggota harus secara mendasar merombak aturan keuangan kami untuk mencegah keruntuhan keuangan yang akan segera terjadi,”
Begitu bunyi suratnya yang dilansir AFP. Nada frustrasi itu jelas terasa.
Laporan keuangan mereka menunjukkan, meski lebih dari 150 anggota sudah bayar, PBB menutup tahun 2025 dengan tunggakan mencolok: 1,6 miliar dolar AS. Angka itu melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, tunggakan raksasa itu cuma selisih 600 juta dolar dari iuran Dewan Perdamaian senilai 1 miliar dolar yang baru saja diluncurkan AS.
Guterres tak main-main dengan peringatannya. Dalam surat itu, ia menegaskan bahwa tanpa peningkatan drastis dalam pembayaran, program reguler 2026 yang sudah disetujui Desember lalu tak akan bisa berjalan.
Artikel Terkait
Putra Gaddafi Tewas Ditembak di Zintan, Misteri Pelaku Masih Gelap
MK Kembali Tegaskan Penolakan, Pintu Hukum Pernikahan Beda Agama Tetap Tertutup
Ketika Pemimpin Ragu, Rakyat yang Menanggung
Suara Kritis di Tubuh NU: Tolak Board of Peace dan Desak PBNU Kembali ke Khittah