Pengeroyokan Guru di Jambi: Alarm Keras bagi Nalar dan Peradaban

- Rabu, 04 Februari 2026 | 03:06 WIB
Pengeroyokan Guru di Jambi: Alarm Keras bagi Nalar dan Peradaban

Kejadian di Jambi itu benar-benar bikin kita merinding. Seorang guru dikeroyok sebuah peristiwa yang, sayangnya, bukan yang pertama. Tapi, yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar kronologi kriminal adalah apa yang tersembunyi di baliknya: sebuah sinyal bahaya tentang cara kita melihat konflik, otoritas, dan keadilan. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya menentukan masa depan: bolehkah kita, dengan dalih apa pun, membenarkan aksi semacam itu? Sama sekali tidak. Baik dari sudut moral, hukum, maupun pendidikan, tindakan itu tak bisa diterima.

Secara moral, pengeroyokan adalah tindakan yang menghancurkan martabat. Filsuf Immanuel Kant pernah bilang, manusia harus selalu jadi tujuan, bukan alat pelampiasan. Nah, saat seorang guru dijadikan sasaran amuk massa, ia tak lebih dari objak kemarahan. Martabatnya sebagai manusia diinjak-injak.

Padahal, kekerasan semacam itu justru menunjukkan kegagalan menggunakan akal sehat hal yang justru membedakan manusia bermoral dari yang lain. Sekalipun seorang guru diduga bersalah, martabatnya sebagai manusia tak pernah hilang dan tak boleh dihapus dengan cara brutal.

Di sisi lain, hukum kita sudah jelas mengaturnya. Pengeroyokan adalah tindak pidana. Negara hukum tidak memberi ruang untuk main hakim sendiri. Kant juga menegaskan, keadilan hanya bisa tegak kalau kita tunduk pada hukum yang rasional, bukan pada emosi sesaat yang meledak-ledak.

Kalau ada ketidakpuasan entah soal metode mengajar, disiplin, atau hal lain kan ada jalurnya. Lapor ke sekolah, komite, dinas pendidikan, atau bahkan kepolisian. Begitu kekerasan yang dipilih, yang terjadi malah keadilan yang runtuh. Pihak yang awalnya merasa dirugikan malah berubah jadi pelanggar hukum baru.

Dampaknya dalam dunia pendidikan jauh lebih dalam dan bakal terasa lama. Sekolah seharusnya jadi tempat kita belajar nilai-nilai: cara berdialog, mengendalikan diri, menyelesaikan masalah secara beradab. Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis, mengingatkan bahwa pendidikan sejati itu berdasar dialog, bukan paksaan; pada kesadaran, bukan penindasan.

Kekerasan terhadap guru adalah bentuk anti-dialog. Itu praktik dehumanisasi, sesuatu yang justru diperangi Freire. Bayangkan pesan apa yang sampai ke murid-murid: bahwa masalah bisa diselesaikan dengan pengeroyokan, bukan dengan diskusi dan tanggung jawab. Sungguh berbahaya.


Halaman:

Komentar