Perlintasan Rafah akhirnya dibuka lagi pada Senin (2/2/2026) setelah hampir dua tahun tertutup. Namun, jangan bayangkan arus lalu lintas yang bebas. Pembukaannya sangat terbatas, penuh dengan aturan ketat yang membuat banyak orang frustrasi.
Media Israel dan Mesir melaporkan, dari rencana awal lima puluh warga Palestina yang diizinkan menyeberang, hanya dua belas orang yang benar-benar sampai di Gaza pada hari itu. Angka itu jauh dari harapan.
Keesokan paginya, Selasa, rombongan pertama pengungsi pun tiba. Ini adalah momen bersejarah, mengingat perlintasan ini tak beroperasi sejak pendudukan tahun 2014 lalu. Tapi suasana yang tercipta bukanlah sukacita, melainkan kelelahaan yang amat sangat.
Seorang koresponden Al Jazeera melaporkan, sebuah bus membawa 12 warga Palestina 9 perempuan dan tiga anak tiba di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Mereka datang dari penyeberangan Rafah dengan wajah-wajah yang lelah.
Kisah pilu segera terdengar. Seorang perempuan Palestina, yang memilih untuk tidak menyebut namanya, mengunggah video kesaksiannya. Dia menggambarkan interogasi kasar oleh pasukan Israel terhadap dirinya, ibunya, dan seorang perempuan lain.
"Mata kami ditutup, tangan diikat berjam-jam lamanya," ujarnya. "Mereka menginterogasi kami tentang hal-hal yang sama sekali tidak saya ketahui."
Lebih menakutkan lagi, salah seorang penyelidik disebutkan mengancam akan merebut anak-anaknya. "Mereka mencoba memaksa saya untuk bekerja sama, bahkan bekerja untuk Israel," tambahnya.
"Pembicaraan mereka selalu tentang imigrasi. Mereka mendesak kami untuk tidak kembali. Rasanya seperti ingin mengosongkan Gaza dari penduduknya. Mereka terus bertanya tentang Hamas dan peristiwa 7 Oktober 2023."
Tak hanya soal interogasi, aturan barang bawaan juga sangat kejam. Para penumpang hanya diizinkan membawa satu tas berisi pakaian. Makanan, parfum, barang pribadi, bahkan mainan anak-anak semuanya disita. Sang perempuan menyebut tindakan itu sebagai penghinaan yang disengaja.
Di akhir kesaksiannya, dia pingsan. Kelelahan dan kesedihan yang mendalam membuatnya tak kuat lagi. Sebelum jatuh, teriakannya terdengar, "Tidak untuk penggusuran!" Pengalamannya dia gambarkan sebagai kematian, siksaan, dan penghinaan.
"Kami diperlakukan dengan buruk. Bus kami dikepung kendaraan militer dari depan dan belakang, lalu dibawa ke area lain. Di sana, interogasi berlangsung berjam-jam."
Perempuan lain yang kembali juga punya cerita serupa. Mereka diinterogasi dalam kondisi mata tertutup dan tangan terikat, padahal beberapa di antaranya sedang sakit atau dalam kondisi kesehatan yang kritis.
Di sisi lain, Pusat Gaza untuk Hak Asasi Manusia menyoroti persoalan lain yang tak kalah pelik. Mereka mencatat, Israel memegang kendali penuh atas daftar penumpang, yang semuanya adalah pasien dan pendampingnya.
Dari 50 pasien kritis yang sangat membutuhkan perawatan di luar Gaza, hanya lima orang yang disetujui untuk bepergian. Langkah ini jelas menghambat hak dasar mereka untuk berobat, yang seharusnya dijamin oleh hukum humaniter internasional.
Suasana di lokasi penyeberangan pun mencekam. Para penumpang dipaksa melalui koridor yang dikelilingi kawat berduri dan kamera pengawas di mana-mana. Adegan ini bukan cuma soal prosedur keamanan, tapi lebih mirip politik intimidasi sistematis.
Dampaknya? Trauma psikologis yang berat, terutama bagi perempuan, orang tua, dan para pasien. Lingkungan itu seakan menghidupkan kembali siklus penghinaan dan hukuman kolektif yang sudah terlalu lama dirasakan warga Gaza.
Artikel Terkait
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Manfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain
Polda NTT Bongkar 27 Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi, Negara Rugi Rp10,16 Miliar
Pakar: Langkah Prabowo Pertahankan Polri di Bawah Presiden Tepat Secara Politik dan Hukum
Bocah 11 Tahun di Cianjur Ditemukan Tenggelam di Sungai Setelah Dua Hari Hilang, Teman Akhirnya Buka Suara