Perlintasan Rafah akhirnya dibuka lagi pada Senin (2/2/2026) setelah hampir dua tahun tertutup. Namun, jangan bayangkan arus lalu lintas yang bebas. Pembukaannya sangat terbatas, penuh dengan aturan ketat yang membuat banyak orang frustrasi.
Media Israel dan Mesir melaporkan, dari rencana awal lima puluh warga Palestina yang diizinkan menyeberang, hanya dua belas orang yang benar-benar sampai di Gaza pada hari itu. Angka itu jauh dari harapan.
Keesokan paginya, Selasa, rombongan pertama pengungsi pun tiba. Ini adalah momen bersejarah, mengingat perlintasan ini tak beroperasi sejak pendudukan tahun 2014 lalu. Tapi suasana yang tercipta bukanlah sukacita, melainkan kelelahaan yang amat sangat.
Seorang koresponden Al Jazeera melaporkan, sebuah bus membawa 12 warga Palestina 9 perempuan dan tiga anak tiba di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Mereka datang dari penyeberangan Rafah dengan wajah-wajah yang lelah.
Kisah pilu segera terdengar. Seorang perempuan Palestina, yang memilih untuk tidak menyebut namanya, mengunggah video kesaksiannya. Dia menggambarkan interogasi kasar oleh pasukan Israel terhadap dirinya, ibunya, dan seorang perempuan lain.
Lebih menakutkan lagi, salah seorang penyelidik disebutkan mengancam akan merebut anak-anaknya. "Mereka mencoba memaksa saya untuk bekerja sama, bahkan bekerja untuk Israel," tambahnya.
Tak hanya soal interogasi, aturan barang bawaan juga sangat kejam. Para penumpang hanya diizinkan membawa satu tas berisi pakaian. Makanan, parfum, barang pribadi, bahkan mainan anak-anak semuanya disita. Sang perempuan menyebut tindakan itu sebagai penghinaan yang disengaja.
Artikel Terkait
SIM Keliling Siap Layani Warga Bandung di ITC Kebon Kelapa dan Tent Avenue
Di Balik Gemerlap Statistik, Suara yang Terlupakan Menggugat
Tiga Tuntutan Rakyat Menggema: Ganti Kapolri, Lengserkan Gibran, dan Hukum Jokowi
Kasus Ijazah Jokowi di Ujung Tanduk: SP3 Mengintai Jika Berkas Ditolak Lagi