Di akhir kesaksiannya, dia pingsan. Kelelahan dan kesedihan yang mendalam membuatnya tak kuat lagi. Sebelum jatuh, teriakannya terdengar, "Tidak untuk penggusuran!" Pengalamannya dia gambarkan sebagai kematian, siksaan, dan penghinaan.
Perempuan lain yang kembali juga punya cerita serupa. Mereka diinterogasi dalam kondisi mata tertutup dan tangan terikat, padahal beberapa di antaranya sedang sakit atau dalam kondisi kesehatan yang kritis.
Di sisi lain, Pusat Gaza untuk Hak Asasi Manusia menyoroti persoalan lain yang tak kalah pelik. Mereka mencatat, Israel memegang kendali penuh atas daftar penumpang, yang semuanya adalah pasien dan pendampingnya.
Dari 50 pasien kritis yang sangat membutuhkan perawatan di luar Gaza, hanya lima orang yang disetujui untuk bepergian. Langkah ini jelas menghambat hak dasar mereka untuk berobat, yang seharusnya dijamin oleh hukum humaniter internasional.
Suasana di lokasi penyeberangan pun mencekam. Para penumpang dipaksa melalui koridor yang dikelilingi kawat berduri dan kamera pengawas di mana-mana. Adegan ini bukan cuma soal prosedur keamanan, tapi lebih mirip politik intimidasi sistematis.
Dampaknya? Trauma psikologis yang berat, terutama bagi perempuan, orang tua, dan para pasien. Lingkungan itu seakan menghidupkan kembali siklus penghinaan dan hukuman kolektif yang sudah terlalu lama dirasakan warga Gaza.
Artikel Terkait
Kisah Kiki: Amukan di Bintaro Berakhir dengan Permintaan Maaf
Sangadji: Jangan Bayangkan Sidang, Kasus Ijazah Jokowi Masih Panjang
Abraham Samad Desak Prabowo Kembalikan 57 Pegawai KPK yang Ditendang Lewat TWK Abal-abal
Kota Anjing di Greenland: Di Balik Gonggongan yang Menjaga Warisan Arktik