Rafah Dibuka Kembali, Namun Derita Warga Gaza Tak Juga Usai

- Rabu, 04 Februari 2026 | 05:40 WIB
Rafah Dibuka Kembali, Namun Derita Warga Gaza Tak Juga Usai

Di akhir kesaksiannya, dia pingsan. Kelelahan dan kesedihan yang mendalam membuatnya tak kuat lagi. Sebelum jatuh, teriakannya terdengar, "Tidak untuk penggusuran!" Pengalamannya dia gambarkan sebagai kematian, siksaan, dan penghinaan.

Perempuan lain yang kembali juga punya cerita serupa. Mereka diinterogasi dalam kondisi mata tertutup dan tangan terikat, padahal beberapa di antaranya sedang sakit atau dalam kondisi kesehatan yang kritis.

Di sisi lain, Pusat Gaza untuk Hak Asasi Manusia menyoroti persoalan lain yang tak kalah pelik. Mereka mencatat, Israel memegang kendali penuh atas daftar penumpang, yang semuanya adalah pasien dan pendampingnya.

Dari 50 pasien kritis yang sangat membutuhkan perawatan di luar Gaza, hanya lima orang yang disetujui untuk bepergian. Langkah ini jelas menghambat hak dasar mereka untuk berobat, yang seharusnya dijamin oleh hukum humaniter internasional.

Suasana di lokasi penyeberangan pun mencekam. Para penumpang dipaksa melalui koridor yang dikelilingi kawat berduri dan kamera pengawas di mana-mana. Adegan ini bukan cuma soal prosedur keamanan, tapi lebih mirip politik intimidasi sistematis.

Dampaknya? Trauma psikologis yang berat, terutama bagi perempuan, orang tua, dan para pasien. Lingkungan itu seakan menghidupkan kembali siklus penghinaan dan hukuman kolektif yang sudah terlalu lama dirasakan warga Gaza.


Halaman:

Komentar