Hasilnya? Lewat dialog dan musyawarah tanpa henti, pemerintahannya bersama Gus Dur berhasil meredakan pertumpahan darah. Kepercayaan antar kelompok yang bertikai pelan-pulan dibangun kembali. Itu kerja nyata.
Sebagai Ketua Umum PDIP, Megawati punya pandangan mendalam tentang kepemimpinan sejati. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu mendengar denyut nadi kehidupan rakyatnya. Kewenangan formal saja tak cukup harus dibarengi empati sosial dan kesadaran akan sejarah.
Di sisi lain, dunia saat ini terlihat semakin terfragmentasi oleh kepentingan-kepentingan sempit. Menghadapi itu, Megawati meyakini masa depan kepemimpinan global harus berpijak pada persaudaraan kemanusiaan. Sebuah nilai yang melampaui batas agama, etnis, maupun generasi.
“Tugas pemimpin adalah membangun kepercayaan dengan menempatkan keadilan sosial dan nilai kemanusiaan sebagai fondasi kebijakan,” pungkasnya menutup penyampaiannya.
Pesan itu menggema di ruang forum, meninggalkan renungan tentang bentuk kekuasaan yang lebih manusiawi dan merawat.
Artikel Terkait
Pengeroyokan Guru di Jambi: Alarm Keras bagi Nalar dan Peradaban
Jet Tempur AS Tembak Jatuh Drone Iran di Dekat Kapal Induk, Ketegangan Laut Arab Kembali Meningkat
Bahasa Isyarat: Ketika Diam Bicara dan Gerakan Menyair
Indonesia Siap Bangun Kampung Haji Eksklusif di Dekat Masjidil Haram