Di Abu Dhabi, tepatnya di Museum Nasional Zayed, forum Human Fraternity Majlis menyaksikan pesan kuat dari Megawati Soekarnoputri. Presiden kelima RI itu berbicara tentang esensi kepemimpinan perempuan di hadapan audiens internasional, Selasa lalu. Baginya, kekuasaan punya karakter yang khas bila dipegang oleh seorang perempuan.
“Sebagai seorang perempuan, saya membawa keyakinan bahwa kepemimpinan bukan tentang dominasi, melainkan tentang upaya merangkul dan merawat, serta bukan menindas,” tegas Megawati.
Ia menekankan, kekuasaan harus dijalankan dengan naluri pelindung. Bukan untuk menguasai, tapi untuk merangkul semua lapisan masyarakat.
Narasi itu bukan sekadar teori. Megawati lalu membawa ingatan kita ke masa-masa sulit Indonesia di awal 2000-an. Saat itu, ia memimpin di tengah transisi demokrasi yang masih rapuh. Ujiannya nyata: konflik horizontal di Poso dan Ambon berkecamuk, mengoyak tenun persatuan nasional. Situasinya genting.
Namun begitu, pilihannya tak biasa. Alih-alih mengerahkan pendekatan militeristik yang represif, ia justru mengedepankan semangat kekeluargaan. Negara, dalam pandangannya, harus hadir sebagai penjamin rekonsiliasi.
“Dalam situasi waktu itu, sebagai kepala negara saya membawa negara hadir bukan sebagai kekuatan represif, melainkan sebagai penjamin rekonsiliasi dengan semangat kekeluargaan,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Pengeroyokan Guru di Jambi: Alarm Keras bagi Nalar dan Peradaban
Jet Tempur AS Tembak Jatuh Drone Iran di Dekat Kapal Induk, Ketegangan Laut Arab Kembali Meningkat
Bahasa Isyarat: Ketika Diam Bicara dan Gerakan Menyair
Indonesia Siap Bangun Kampung Haji Eksklusif di Dekat Masjidil Haram