Randu Alas Raksasa di Tuksongo Tumbang, Sisa Batangnya Dijadikan Monumen

- Selasa, 03 Februari 2026 | 18:18 WIB
Randu Alas Raksasa di Tuksongo Tumbang, Sisa Batangnya Dijadikan Monumen

Sebuah pohon randu alas raksasa, yang selama puluhan tahun menjadi penanda jalan di Desa Tuksongo, akhirnya tumbang. Bukan karena angin kencang atau usia renta semata, tapi karena keputusan Pemerintah Kabupaten Magelang untuk memangkasnya. Aksi penebangan itu sendiri dilakukan pada Senin lalu.

Lewat unggahan di Instagram resminya, Disparpora Kabupaten Magelang menjelaskan alasan di balik keputusan yang pasti berat bagi warga itu. Mereka menyebut pohon ikonis berusia ratusan tahun itu ditebang demi penataan lingkungan. Tujuannya, untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan masyarakat sekitar.

Namun begitu, prosesnya tak dilakukan begitu saja. Ada semacam ritual penghormatan terakhir yang mendahului bunyi gergaji mesin.

"Penebangan diawali dengan prosesi selamatan menggunakan uba rampe berupa sembilan ingkung, dan sembilan jenang. Doa bersama dipanjatkan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa kendala serta tidak menimbulkan musibah,"

Jelas sekali, ada nuansa khidmat dan hati-hati di sana. Mereka tak ingin dipandang gegabah.

Lantas, apa yang membuat pohon tua itu 'harus' diturunkan? Menurut Disparpora, semua berangkat dari kajian teknis tim ahli dari UGM. Hasilnya cukup telak: pohon itu dinyatakan sudah 95% tak layak hidup. Kondisinya dianggap membahayakan.

"Atas dasar kajian tersebut, Pemerintah Desa Tuksongo bersama para pemangku kepentingan terkait serta lintas sektor sepakat untuk melakukan penebangan,"

Di sisi lain, keputusan untuk menebang bukan berarti menghapus sama sekali kenangan akan pohon tersebut. Pemerintah setempat punya kompromi.

Mereka menyisakan sekitar delapan meter dari batang utamanya. Rencananya, bagian yang tersisa itu akan dipertahankan sebagai monumen. Sebuah penanda fisik untuk menghormati nilai sejarah dan identitas Desa Tuksongo yang sempat diwakili oleh sang randu alas raksasa.

Jadi, meski dahan dan rantingnya sudah tiada, jejaknya tak akan benar-benar hilang. Ia akan berdiri dalam bentuk lain, bisu, namun tetap menyimpan cerita.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar