Kalau dilihat dari posisinya, pernyataan al-Kahlout ini jelas punya bobot. Dia punya kedekatan simbolik dengan perjuangan Palestina, jadi dukungan moral dan politiknya ke Suriah itu isyarat penting. Intinya, perjuangan rakyat Suriah dan Gaza dianggap satu tarikan napas, tidak terpisah.
Bahkan ada harapan yang lebih jauh: bahwa nanti, giliran pasukan Suriah atau lebih tepatnya Syam yang akan turut membebaskan Palestina. Sejarah, katanya, akan berulang. Begitu Suriah bebas, Palestina akan menyusul.
Alasannya selalu sama: mereka satu bangsa, satu tanah negeri Syam.
Unggahan itu juga disertai sebuah gambar, memperkuat pesan yang disampaikan. Gambar itu tampak seperti cuplikan dari unggahan media sosial, menampilkan teks dukungan yang sama dengan visual yang sederhana namun penuh arti.
Artikel Terkait
Pandji Usai Bertemu MUI: Karya Harus Diimbangi Kepekaan
Prabowo Dapat Dukungan Ormas Islam untuk Langkah Diplomasi Palestina
Strategi Sun Tzu di Balik Rekor Tak Terkalahkan Jokowi
Potensi Rp70 Triliun Tersandera: Mengapa Game Lokal Cuma Kuasai 5% Pasar Sendiri?