Padahal, kalau dilihat dari kertas spesifikasinya, T2 ini nampak tangguh. Dia dibangun di atas platform Kunlun yang diklaim untuk kendaraan berperforma. Mesin 1.5 liternya sanggup menghasilkan 181 tenaga kuda. Kabinnya luas, plus dilengkapi berbagai fitur keselamatan modern. Semua itu harusnya jadi modal kepercayaan.
Tapi nyatanya, satu benturan hebat sudah cukup untuk mengubahnya jadi onggokan besi berasap.
Lantas, apa penyebab pastinya? Para ahli keselamatan punya beberapa dugaan. Benturan sekeras itu bisa saja membuat tangki atau selang bahan bakar bocor. Atau, bisa juga memicu korsleting di bagian kelistrikan yang kemudian memercikkan api ke area mesin. Ketika uap bensin, panas, dan percikan api bertemu, ledakan dan kobaran besar adalah konsekuensi yang sangat mungkin terjadi dan cepat sekali prosesnya.
Kasus ini menunjukkan betapa sistem bahan bakar kendaraan modern, meski canggih, tetap punya titik kritis saat menghadapi tekanan ekstrem.
Di satu sisi, Jetour berjanji akan mengumumkan hasil penyelidikannya. Di sisi lain, publik masih terus bergumam. Gimana sih, mobil baru yang mengusung nama besar dan teknologi kekinian malah berakhir jadi tumpukan arang di jalan tol?
Pertanyaan itu sekarang menggantung. Dan jawabannya jadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi Jetour.
Artikel Terkait
Wacana TKA untuk SNBP Dikritik, Siswa SMK dan Daerah 3T Dikhawatirkan Terdampak
Kebocoran Data Kominfo: CV dan Ijazah Ribuan Pelamar Terbuka untuk Publik
Pemilik Toko Jadi Tersangka Usai Tangkap Maling Sendiri
Randu Alas Raksasa di Tuksongo Tumbang, Sisa Batangnya Dijadikan Monumen