Di sisi lain, dia juga mempertanyakan konteksnya. Soenarko heran, seolah-olah institusi kepolisian sedang berada dalam keadaan darurat perang. "Emangnya ada yang niat menyerang polisi? Kok pakai istilah titik darah penghabisan? Siapa yang menyerang Polri?" ujarnya dengan nada bertanya.
Kritiknya tak berhenti di situ. Soenarko menduga, pernyataan itu mungkin adalah bentuk reaksi emosional terhadap wacana reformasi Polri yang belakangan ramai dibicarakan.
"Kalau itu bentuk penolakan terhadap wacana reformasi Polri, ya berarti dia menantang rakyat. Reformasi itu kan tuntutan publik," katanya.
Secara keseluruhan, sikap Kapolri dinilainya terkesan sok jagoan dan jauh dari sikap kenegarawanan yang seharusnya. "Merasa paling jago, seolah-olah pernah perang. Saya ini mantan pasukan khusus saja enggak pernah sombong. Pernyataan seperti itu tidak pantas, tidak simpatik," ucapnya.
Sebagai penutup, Soenarko mengingatkan pandangan mantan petinggi Polri, Susno Duadji. Intinya, posisi institusional Polri seharusnya bukan masalah besar.
"Polisi itu mau di bawah kementerian apa pun enggak masalah. Yang penting profesional, tahu tugas pokok, dan tidak keluar dari koridor," pungkasnya.
Artikel Terkait
Kebusukan di Balik Tahta: Ketika Kejahatan Dilembagakan oleh Para Penguasa
Pesan Terakhir Hoegeng: Menolak Makam Pahlawan Demi Bersebelahan dengan Istri
Megawati Kenang Hangatnya Tante Meri, Istri Pendamping Hoegeng yang Berpulang
Saudara Abu Ubaidah Serukan: Suriah dan Palestina Satu Bangsa