Pergerakan IHSG belakangan ini terasa berat. Salah satu beban utamanya datang dari ketidakpastian seputar rencana perubahan aturan perhitungan "free float" oleh MSCI, penyedia indeks global ternama. Kabarnya, pengumuman resmi hasil konsultasi ini bakal keluar paling lambat akhir Januari 2026.
Menurut Hans Kwee, Co-Founder PasarDana dan praktisi pasar modal, koreksi yang terjadi tak lepas dari sikap antisipatif investor. Mereka khawatir, perubahan aturan itu nantinya bakal memicu aksi jual.
"Ada banyak spekulasi yang mengatakan investor asing dan beberapa pelaku pasar mengantisipasi potensi perubahan perhitungan MSCI, sehingga orang jualan di pasar,"
ungkap Hans Kwee dalam sebuah acara edukasi untuk wartawan, Jumat lalu.
Namun begitu, Hans menilai spekulasi yang melemahkan saham-saham big cap dan konglomerasi itu terkesan berlebihan. Ia berpendapat, kekhawatiran MSCI soal kemungkinan manipulasi jumlah saham beredar publik sebenarnya kurang relevan jika dikaitkan dengan saham-saham unggulan di Indonesia.
"Sebenarnya niat dari MSCI mengatakan khawatir ada manipulasi pada free float kita, itu nggak tercapai. Jadi, kan tidak ada kita berpikir bahwa saham-saham gede kita, BCA, Mandiri, segala macam, itu tidak sama sekali melakukan rekayasa terhadap free float-nya. Even saham konglomerat kita pun, dia memang naik kencang, tapi kalau kita lihat, banyak ritel yang masuk ke dalam sana,"
paparnya lebih lanjut.
Di sisi lain, MSCI sebelumnya memang mengusulkan metode baru. Mereka berencana memakai data tambahan dari Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI untuk menentukan estimasi "free float", dengan mengklasifikasikan saham dalam warkat dan kepemilikan korporasi sebagai non-free float. Ini tentu saja jadi perhatian serius.
Hans Kwee mengingatkan, MSCI punya fokus yang berbeda. Indeks mereka lebih menitikberatkan pada likuiditas dan jumlah saham beredar, bukan sekadar fundamental perusahaan. Makanya, perubahan metodologi sekecil apapun bisa sangat sensitif dan berdampak pada aliran dana asing.
Ia punya usul. Evaluasi MSCI itu, menurutnya, seharusnya tidak berlaku surut untuk emiten yang sudah masuk indeks. "Harusnya evaluasi MSCI itu tidak mengubah aturan free float terhadap Indonesia. Mungkin ke depan, saham yang akan masuk ke sana, kriteria-nya akan ditambahkan. Tapi yang existing sekarang, kalau kita lihat, saat ini memang market kita koreksi," pungkas Hans.
Proses konsultasi publik MSCI sendiri sudah ditutup pada akhir Desember tahun lalu. Kalau proposalnya disetujui dan diumumkan akhir bulan ini, perubahan besar pada bobot saham Indonesia di indeks MSCI baru akan benar-benar diterapkan pada review bulan Mei 2026. Sampai saat itu tiba, pasar diprediksi masih akan diwarnai volatilitas. Pelaku pasar tampaknya harus bersabar menunggu kejelasan aturan ini terbit dulu.
Artikel Terkait
Garuda Metalindo Bagikan Dividen Rp117,2 Miliar, Setara 88,63% Laba Bersih 2025
Garudafood Bagikan Dividen Rp350 Miliar, Rp9,5 per Saham
OJK Ungkap Data Konsentrasi Kepemilikan Saham Jadi Acuan MSCI Keluarkan Emiten dari Indeks
BRI Ramaikan Clash of Legends 2026 dan Luncurkan Kartu Debit Spesial Barcelona