Pasar saham Asia kembali menunjukkan sinyal hijau di tengah hiruk-pikuk geopolitik. Pada Rabu (11/3/2026) pagi, sentimen membaik setelah kabar dari Badan Energi Internasional (IEA) berhasil meredam kekhawatiran terbesar investor belakangan ini: gangguan pasokan minyak. IEA disebut-sebut akan mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarahnya. Langkah ini, jika benar, bahkan melampaui aksi serupa pada 2022 yang mencapai 182 juta barel.
Dampaknya langsung terasa. Harga minyak dunia pun melemah. Kontrak berjangka Brent dan WTI tercatat turun tipis dalam perdagangan dini hari. Ini jadi angin segar bagi bursa regional yang sebelumnya tegang.
Di Jepang, indeks Nikkei melonjak lebih dari 2 persen, sementara Topix juga menguat 1,57 persen. Pergerakan ini cukup signifikan, mengingat pasar minyak sebelumnya begitu bergejolak dan membuat investor kesulitan mencari arah.
Australia melanjutkan tren pemulihan. Indeks ASX 200 naik 0,51 persen, setelah sehari sebelumnya juga mencatat kenaikan. Saham-saham pertambangan jadi primadona, didorong penguatan harga komoditas seperti bijih besi dan emas. Investor seolah kembali memburu aset-aset di sektor ini.
Di sisi lain, performa pasar Asia lainnya cukup beragam. Korsel menjadi bintang dengan KOSPI yang melambung tinggi 3,09 persen. Hong Kong dan Singapura juga catat kenaikan, meski tipis. Namun, tidak semua bergerak positif. Indeks Shanghai Composite justru sedikit melemah, turun 0,10 persen.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,59%, Mayoritas Sektor Catatkan Kenaikan
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 per Gram, Sentuh Rp3,08 Juta
Wall Street Berakhir Bervariasi, Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen
Harga Emas Bangkit Didorong Pelemahan Dolar dan Meredanya Sentimen Inflasi