Rupiah Menguat ke Rp17.997,5 per Dolar AS, BI Naikkan Suku Bunga demi Stabilisasi

- Rabu, 10 Juni 2026 | 10:45 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.997,5 per Dolar AS, BI Naikkan Suku Bunga demi Stabilisasi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan pagi ini, melanjutkan tren positif di tengah berbagai tekanan global yang masih membayangi.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu, 10 Juni 2026, rupiah berada di level Rp17.997,5 per dolar AS hingga pukul 10.25 WIB. Mata uang Garuda tersebut naik 60,5 poin atau setara 0,34 persen dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp18.058 per dolar AS. Sementara itu, mengacu pada data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama tercatat di level Rp18.136 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah pada hari ini akan berlangsung fluktuatif. Meskipun demikian, ia memperkirakan rupiah berpotensi melemah pada akhir sesi perdagangan.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 per USD hingga Rp18.100 per USD," jelas Ibrahim.

Ibrahim mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh keputusan Bank Indonesia yang secara mendadak menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Bank sentral beralasan bahwa langkah ini merupakan upaya lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan ini juga bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus satu persen yang telah ditetapkan pemerintah.

Sehubungan dengan hal tersebut, BI memandang perlu menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain yang bertujuan mendorong masuknya aliran investasi asing.

Di sisi lain, BI juga mencatat adanya penyusutan pada posisi cadangan devisa negara menjadi USD144,9 miliar per akhir Mei 2026. Angka ini menurun sebesar USD1,3 miliar dibandingkan dengan posisi April 2026 yang mencapai USD146,2 miliar. Penurunan tersebut didominasi oleh kewajiban pelunasan utang luar negeri pemerintah, penerbitan surat utang obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi cadangan devisa ini menjadi yang terendah sejak Juli 2024.

Sementara itu, pemerintah memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.200 per dolar AS. Salah satu pertimbangan utama pemerintah dalam menyiapkan stimulus tersebut adalah untuk melindungi daya beli masyarakat yang berpotensi tertekan akibat berbagai gejolak ekonomi. Selain stimulus ekonomi, pemerintah juga akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center yang belakangan menjadi perhatian sebagai salah satu instrumen penguatan sektor keuangan nasional.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar