paparnya lebih lanjut.
Di sisi lain, MSCI sebelumnya memang mengusulkan metode baru. Mereka berencana memakai data tambahan dari Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI untuk menentukan estimasi "free float", dengan mengklasifikasikan saham dalam warkat dan kepemilikan korporasi sebagai non-free float. Ini tentu saja jadi perhatian serius.
Hans Kwee mengingatkan, MSCI punya fokus yang berbeda. Indeks mereka lebih menitikberatkan pada likuiditas dan jumlah saham beredar, bukan sekadar fundamental perusahaan. Makanya, perubahan metodologi sekecil apapun bisa sangat sensitif dan berdampak pada aliran dana asing.
Ia punya usul. Evaluasi MSCI itu, menurutnya, seharusnya tidak berlaku surut untuk emiten yang sudah masuk indeks. "Harusnya evaluasi MSCI itu tidak mengubah aturan free float terhadap Indonesia. Mungkin ke depan, saham yang akan masuk ke sana, kriteria-nya akan ditambahkan. Tapi yang existing sekarang, kalau kita lihat, saat ini memang market kita koreksi," pungkas Hans.
Proses konsultasi publik MSCI sendiri sudah ditutup pada akhir Desember tahun lalu. Kalau proposalnya disetujui dan diumumkan akhir bulan ini, perubahan besar pada bobot saham Indonesia di indeks MSCI baru akan benar-benar diterapkan pada review bulan Mei 2026. Sampai saat itu tiba, pasar diprediksi masih akan diwarnai volatilitas. Pelaku pasar tampaknya harus bersabar menunggu kejelasan aturan ini terbit dulu.
Artikel Terkait
Airlangga Manfaatkan Panggung Davos untuk Pikat Raksasa Digital AS
Amran Beri Sinyal Tegas: Harga Pangan Ramadan 2026 Tak Boleh Naik Sembarangan
Dari Hotel Mewah ke Lapak Manggarai: Kisah Kloset Bekas yang Disulap Kembali Kinclong
Ribuan Benih Sawit Sumsel Lolos Karantina, Meluncur ke Peru