Jokowi dan PSI: Sandera Politik di Balik Dukungan untuk Prabowo

- Selasa, 03 Februari 2026 | 12:00 WIB
Jokowi dan PSI: Sandera Politik di Balik Dukungan untuk Prabowo

Di sisi lain, PSI dalam skema ini sepertinya tak pernah dimaksudkan jadi pemenang pemilu. Fungsinya lebih sebagai instrumen cadangan semacam asuransi politik jika hubungan dengan Prabowo nanti memburuk. Makanya, pernyataan soal Gibran 2029 dari elite partai itu jangan dianggap spontan. Itu sinyal yang sengaja dilepas. Untuk menguji air, sekaligus mengingatkan semua pihak bahwa ada opsi lain yang siap.

Publik sudah saatnya menyebut ini apa adanya. Inkonsistensi Jokowi bukan kebetulan, melainkan sebuah metode. Dia tak terikat pada konsistensi nilai, hanya pada efektivitas menjaga pengaruh. Hari ini bicara keberlanjutan, besok sudah menyiapkan pengganti. Sekarang memuji presiden terpilih, esok memelihara partai yang berpotensi melemahkannya.

Lantas, apakah ini berarti perang terbuka dengan Prabowo? Belum sampai situ. Tapi yang pasti, ini jelas bukan loyalitas. Ini politik sandera. Dukungan diberikan, tapi alat tekanan disimpan baik-baik. Selama Prabowo patuh, PSI akan tetap jinak. Begitu dia terlalu mandiri atau mengambil jalur sendiri, narasi regenerasi dan Gibran 2029 itu siap diaktifkan.

Demokrasi kita tidak akan mati karena oposisi yang keras. Justru ia terancam oleh mantan presiden yang menolak jadi mantan. Yang ingin tetap menentukan arah tanpa mandat rakyat yang baru, dan tanpa tanggung jawab konstitusional. Ketika kekuasaan dipelihara lewat ambiguitas dan sinyal ganda, yang dirusak bukan cuma etika politik. Kepercayaan publiklah yang akhirnya terkikis.

Jadi, pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi apakah Jokowi inkonsisten. Tapi, sampai kapan publik mau menerima pola politik yang mengatakan satu hal, sambil diam-diam menyiapkan yang sebaliknya?

Surabaya, 3 Februari 2026

M. Isa Ansori, Kolumnis, Akademisi, Wakil Ketua ICMI Jatim


Halaman:

Komentar