Memang agak mengherankan sih, reaksi anggota Komisi III itu. Mereka bertepuk tangan atas perintah Kapolri untuk mempertahankan status quo Polri. Padahal, Ketua Komisi III-nya sendiri, Habiburokhman, bersaksi bahwa itu adalah bentuk loyalitas Kapolri kepada Presiden, bukan pembangkangan.
Namun begitu, ada yang menarik. Belum lama ini, di hadapan kelompok kritis yang bertemu Presiden Prabowo di Kertanegara, opsi penempatan Polri di bawah kementerian justru dibuka secara eksplisit. Nah, lho. Lantas, apa arti tepuk tangan dan pernyataan loyalitas tadi?
Sebagai petinggi Gerindra, mestinya Habiburokhman agak malu. Dia terlalu maju dan pasang badan untuk sesuatu yang sebenarnya belum final. Kecuali, ya, kalau memang ada kepentingan lain yang belum terbuka ke publik. Entahlah. Tindakan yang agak memalukan semacam ini sepertinya sudah melekat pada sebagian anggota dewan kita.
Soal Jokowi, sebenarnya wajar saja dia bekerja mati-matian untuk PSI. Ketua Umum partainya adalah anak bungsunya, dan calon yang akan diusung nanti adalah anak sulungnya. Kalau dia tidak berjuang habis-habisan, justru itu yang aneh. Mana mungkin dia yang diuntungkan malas-malasan?
Yang justru kurang wajar itu pernyataan Kapolri. Memerintahkan bawahannya berjuang sampai titik darah penghabisan hanya untuk menolak kemungkinan Polri dibawahi kementerian? Bahkan dia bilang lebih memilih jadi petani daripada jadi menteri yang membawahi Polri. Agak lawak, terdengarnya. Seperti ada anak buah yang tiba-tiba ngotot mau menentukan sendiri siapa bosnya.
(Direktur ABC Riset & Consulting)
Artikel Terkait
Kesalehan di Era Digital: Antara Dakwah dan Pertunjukan Visual
Program Makan Gratis Prabowo Tumbuhkan Satu Juta Pekerjaan Baru
Kuasa Hukum Habib Bahar Balik Laporkan Pelapor ke Polres Bogor
Prabowo Soroti Kualitas Hidup, Sekolah Rakyat Jadi Ujung Tombak