Oleh: Erizal
Ternyata, Kapolri dan Jokowi punya satu kesamaan. Mereka berdua adalah pejuang. Bukan sembarang pejuang, tapi pejuang yang gigih. Meski, tentu saja, untuk kepentingan yang berbeda-beda.
Bagi pendukung masing-masing, perjuangan ini baru benar-benar terlihat belakangan. Setidaknya, bagi yang mau jeli melihat geliat politik terkini.
Di hadapan anggota Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersikap sangat tegas. Dia memerintahkan jajarannya untuk berjuang habis-habisan sampai titik darah penghabisan kalau ada saja pihak yang berniat menempatkan Polri di bawah kementerian. Posisi Polri saat ini, baginya, adalah harga mati.
Di sisi lain, Jokowi punya semangat yang tak kalah berapi-api. Saat berbicara di Rakernas I PSI di Makassar, dia berpidato lantang. Presiden menyatakan akan bekerja mati-matian untuk Partai Solidaritas Indonesia. Begitu bersemangatnya, sampai-sampai dia seperti keseleo lidah mengulang kata "mati-matian" itu. Tak cuma itu, dia juga berjanji bekerja habis-habisan demi kemenangan PSI.
Kalau dipikir, kalimatnya agak lucu juga. Kalau sudah mati, ya habis. Tapi ya sudahlah, yang penting semangatnya sampai.
Teriakannya itu langsung disambut gegap gempita. Para peserta Rakernas bersorak, "Jokowi! Jokowi! Jokowi!" Suaranya menggema memenuhi ruangan. Sementara itu, perintah Sigit soal perjuangan sampai titik darah penghabisan di Komisi III dibalas dengan tepuk tangan riuh. Bahkan, salah satu anggota teriak jelas, "Menyala Kapolri!"
Artikel Terkait
Kesalehan di Era Digital: Antara Dakwah dan Pertunjukan Visual
Program Makan Gratis Prabowo Tumbuhkan Satu Juta Pekerjaan Baru
Kuasa Hukum Habib Bahar Balik Laporkan Pelapor ke Polres Bogor
Prabowo Soroti Kualitas Hidup, Sekolah Rakyat Jadi Ujung Tombak