KADIN DIY Usung Tiga Filosofi Jawa untuk Cetak Ekonomi Yogyakarta yang Berkarakter

- Senin, 02 Februari 2026 | 07:18 WIB
KADIN DIY Usung Tiga Filosofi Jawa untuk Cetak Ekonomi Yogyakarta yang Berkarakter

Sultan: Perubahan Selalu Dimulai dari Kepemimpinan

Gubernur Sri Sultan HB X bicara blak-blakan. Dunia bisnis, katanya, harus seperti bambu. Lentur tapi tetap tegak. Perubahan global berjalan cepat, namun kemajuan tetap ditentukan oleh kualitas pemimpin, bukan hanya modal atau teknologi.

"Seringkali, kegagalan beradaptasi itu bukan karena teknologinya kurang canggih. Tapi karena pemimpinnya gagal menata ulang cara kerja dan budaya organisasinya," ujar Sultan.

Ia kemudian menyoroti reformasi kalurahan sesuatu yang unik di DIY. Ini adalah fondasi pembangunan ekonomi dari akar rumput. Sultan berharap warga desa tak lagi jadi objek, melainkan subjek pembangunan. Di sinilah peran KADIN DIY dinilai krusial, sebagai penghubung inisiatif ekonomi di tingkat desa dengan pasar dan pembiayaan yang lebih luas.

Angka-Angka dan Tantangan Nyata

Acara itu sendiri diawali dengan diskusi yang cukup teknis. Ada Anggito Abimanyu dari LPS dan Sri Darmadi Sudibyo dari BI Yogyakarta yang memaparkan kondisi riil. Anggito menyoroti soal dana menganggur. Tabungan masyarakat di DIY mencapai Rp91,7 triliun, tapi kredit yang disalurkan baru sekitar Rp58,9 triliun. Artinya, masih banyak dana yang bisa digerakkan.

Sementara itu, Kepala Bapperida DIY, Danang Setiadi, mengungkap soal ketimpangan. Wilayah selatan DIY yang luas, kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi masih di angka 40%. Padahal, target pertumbuhan DIY di 2027 harus mencapai 6%. Saat ini masih berkisar 5,4%. Butuh kerja keras dan sinergi untuk mencapainya.

Di sisi lain, Sri Darmadi dari BI memberikan angin segar. Perekonomian DIY masih tumbuh positif dan termasuk yang tertinggi di Jawa. Ketahanan ini banyak ditopang oleh UMKM dan digitalisasi pembayaran yang kian masif.

Penutup: Menyatukan Langkah

Pada akhirnya, pelantikan ini meninggalkan pesan yang kuat. Fondasinya adalah nilai dan kepemimpinan. Kekuatannya terletak pada manusia, budaya, dan desa. Investasi harus dipilah, pembiayaan harus inovatif, dan stabilitas harus dijaga.

Peran KADIN DIY ke depan jelas tidak mudah. Mereka harus menjadi jembatan yang efektif. Agar pertumbuhan ekonomi Yogyakarta nantinya benar-benar bisa dirasakan oleh semua lapisan, berkelanjutan, dan tak kehilangan jati dirinya.


Halaman:

Komentar