Lebih Dari Sekadar Pelantikan: KADIN DIY dan Arah Baru Ekonomi Yogyakarta
Sabtu lalu, The Alana Hotel Yogyakarta ramai. Bukan acara biasa yang digelar di sana, melainkan pengukuhan pengurus baru KADIN DIY untuk periode lima tahun ke depan. Acara yang seharusnya formal itu, ternyata berubah jadi ruang diskusi yang cukup hangat. Di sana, para pemimpin nasional dan daerah duduk bersama, membahas masa depan ekonomi Yogyakarta di tengah segala ketidakpastian global dan keterbatasan dana yang ada.
Benang merahnya jelas. Di hadapan para pengurus baru, para pembicara sepakat bahwa pertumbuhan ekonomi DIY tak boleh lagi sekadar mengejar angka. Harus ada kualitas, harus membumi, dan yang paling penting harus punya karakter Yogya. Itu yang ditegaskan oleh Anindya Bakrie dari KADIN Pusat, Gubernur Sri Sultan HB X, dan tentu saja, ketua baru KADIN DIY, GKR Mangkubumi.
Tiga Filosofi yang Jadi Kompas
Usai dikukuhkan, GKR Mangkubumi langsung menegaskan arah yang akan ditempuh. Landasannya adalah tiga filosofi hidup Jawa yang mendasar. Pertama, Hamemayu Hayuning Bawana. Ini soal merawat dan memperindah kehidupan. Dalam bahasa ekonomi, artinya mendorong bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, sambil menolak praktik-praktik yang merusak.
Kedua, Sangkan Paraning Dumadi. Filosofi ini mengingatkan kita untuk selalu sadar asal-usul dan tujuan. Nilai ini jadi dasar bagi dunia usaha yang penuh integritas dan tata kelola yang baik.
Yang ketiga, Manunggaling Kawula Gusti. Ini tentang kesatuan. Dalam praktiknya, filosofi ini diterjemahkan menjadi kolaborasi yang erat. Pemerintah, pengusaha, dan masyarakat harus benar-benar bersinergi.
"DIY butuh penggerak ekonomi yang mau maju bareng UMKM dan peduli lingkungan. Proyek yang cuma mengejar keuntungan tapi merusak alam, bukan untuk kita," tegas GKR Mangkubumi kepada wartawan usai acara.
Ekonomi yang Mengandalkan Manusia, Bukan Sumber Daya Alam
Anindya Bakrie punya pandangan menarik tentang keunikan Yogyakarta. Menurutnya, fondasi ekonomi daerah ini justru bertumpu pada manusia, bukan pada eksploitasi tambang atau hutan.
"Lebih dari 60% PDRB DIY disokong sektor jasa. Pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM berbasis budaya punya peran besar di sini," ujar Anindya.
Struktur seperti ini, lanjutnya, memberi daya lenting yang khas. Ketika dunia gonjang-ganjing karena perubahan rantai pasok atau krisis global, ekonomi yang berbasis kreativitas dan kualitas manusia cenderung lebih tahan banting dan mudah beradaptasi. Tantangannya ke depan adalah menjaga agar ekosistem kreatif itu tetap relevan dan terus berkembang.
Artikel Terkait
Sarkasme Kapolri di DPR dan Drama Loyalis yang Memantik Kemarahan Publik
Prabowo Buka Rakornas 2026, Soroti Evaluasi Kinerja dan Sinergi Menuju Indonesia Emas
Prabowo Sampaikan Arahan Langsung ke Seluruh Kepala Daerah di Sentul
Ribuan Personel Gabungan Amankan Arus Lalu Lintas Menjelang Ramadan